Minggu, 01 Maret 2009

Menggala Tergerus Dangdut

Menggala Tergerus Dangdut

Source: Lampungpost (Minggu, 14 Desember 2008)


MENGGALA--Kota tua Menggala sesungguhnya merupakan kota yang memiliki sejarah kejayaan di masa silam, tapi kini hanya tinggal kenangan. Bagaimana Menggala berada, inilah sekelumit cerita sejarah yang di paparkan mantan Pejabat Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala periode 1993--1994, Rukhyat Kusuma Yuda (71).

Meskipun usianya sudah terhitung uzur, semangatnya masih terlihat menggelora jika menceritakan tanah kelahirannya Menggala. Menurut dia yang ditemui Jumat (12-12) di rumah dinas Camat Menggala, keberadaan Kota Menggala bisa dilihat sejak abad ke-19. Saat itu Lampung menjadi daerah protektorat, yaitu bawahan Kerajaan Banten. Akan tetapi, sejak 1948 saat Kerajaan Banten dikuasai Belanda, pemerintahan Menggala pun diatur dengan cara-cara Belanda. Jadi otoritas Lampung menjadi jajahan Belanda.

Kemudian setelah Belanda hengkang dari Menggala, pemerintahan menjadi sistem marga (adat) yang sampai sekarang masih kita kenal dengan empat marga (Megou Pak), walaupun sekarang kegiatan marga (adat) tidak jalan.

Rukhyat menjelaskan tahun 1952 dari pemerintahan marga berubah menjadi pemerintahan negeri yang dipimpin kepala negeri. Pemerintahan negeri dihapus tahun 1972--1973 sehingga aktivitas pemerintahan diambil alih onderdistrik atau setingkat kecamatan. Kecamatan merupakan bagian dari kewedanaan yang orang Belanda sebut sebagai distrik. Sebenarnya saat Jepang berkuasa 1946, di Menggala juga sudah kenal istilah camat yang dijabat vukuhkunco, saat itu Jepang hanya sebagai pengendali kewedanaan.

Menggala, kata Rukhyat yang juga pernah menjadi asisten wedana, kemudian berubah menjadi camat kepala wilayah sesuai dengan UU No.18 Tahun 1965. Terakhir, camat tanpa embel-embel kepala wilayah, tentu sesuai dengan UU 32/1999. Sebab, yang namanya camat atau bupati pasti kepala wilayah di tingkatannya.

Kota tua Menggala awalnya memiliki rumah panggung dengan ketinggian tertentu guna menghindari gangguan binatang dan banjir. Sejak sekitar 1920-an mulai ada bangunan rumah menggunakan semen, tapi sebelum itu masih panggung. Dan sampai sekarang masih ada beberapa rumah adat dengan usia sekitar ratusan tahunan: Rumah adat milik keturunan Pagar Alam, rumah milik keturunan Warga Negara dan rumah H. Husen. Semuanya belum ada perubahan sama sekali dan masih asli. Crri khas rumah adat ialah memiliki semacam tempat untuk bermusyawarah.

Ada dua peninggalan Belanda yang masih bisa dimanfaatkan: Kantor Pos Menggala dan Gedung Perwatin. Gedung itu sempat dijadikan Kantor Bappeda. Gedung itu sudah berusia ratusan tahun karena tahun 1905, ayah Rukhyat Kesuma Yuda, Raden Panji Kesuma Yuda, telah berkantor di Gedung Perwatin. Ayahnya, kata Rukhyat, sempat menjadi demang selama dua periode, yakni tahun 1921 hingga 1927 dan periode kedua 1932 hingga 1942.
Menggala dahulu pernah menjadi pusat pemerintahan, perdagangan ,dan pendidikan. Sebab, saat itu di Lampung hanya ada dua sekolah Belanda yang disebut HIS. Yang pertama di Telukbetung dan kedua di Menggala.

Maka, saat itu banyak putra Menggala sudah terdidik, bahkan Jenderal Ryacudu pernah sekolah di Menggala. Menggala juga pernah menjadi pusat perdagangan karena dahulu hanya ada dua pelabuhan: Telukbetung dan Pelabuhan Menggala.

Kemudian Menggala pernah menjadi pusat pemerintahan karena dahulu memang sempat dijadikan tempat asisten residen. Setelah Perang Dunia II, asisten residen diganti hanya menjadi kontroliur (HvB). Lalu menjadi pusat kebudayaan karena dahulu Menggal menjadi pusat sanggar tari terkenal, tempat pembuatan tapis dan siger, pembuatan kopiah resem, anyaman tikar, dan alat-alat memasak. Maka itulah, kata Rukhyat, Menggala sempat dijuluki Paris van Lampung oleh bangsa asing.

Ciri khas masyarakat Menggala ialah dari dahulu menjadi nomor satu adalah masalah politik. Politik di Menggala sangat kritis karena sedikit saja ada masalah, pasti mencuat ke permukaan dan tidak jarang saling menjatuhkan. Tiga daerah di Lampung yang paling kritis dalam urusan politik, yaitu Menggala, Krui, dan Sukadana.

Di bawah tahun 1970-an jarang orang mau jadi camat di Menggala karena jarang yang berhasil. Menggala bisa diibaratkan daerah buangan atau daerah ujian. Jika camat yang bertugas di Menggala gagal, hal itu biasa. Akan tetapi, kalau sukses menjadi sangat luar biasa. Jadi bertugas di Menggala memang harus berani.

Kini Menggala justru menjadi kota tua yang tertinggal dari berbagai segi dari daerah-daerah lain. Sebab, tidak ada lagi acara-acara menggunakan simbol-simbol adat, tidak ada lagi begawi. n WIDODO/M-1a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar