Rabu, 11 Maret 2009

SEJARAH DOMPU DAN TULANG BAWANG

Oleh : HM.Agus Suryanto Wartawan Harian Lombok Dompu


Dalam lembaran sejarah di Dompu mencatat,sebelum terbentuknya kerajaan konon didaerah ini pernah berkuasa beberapa kepala suku yang disebut sebagai ‘’NCUHI’’ atau raja kecil para ncuhi tarsebut terdiri dari 4 orang yaitu:


Ncuhi Hu,u
yang mempunyai wilayah kekuasaan Hu,u dan sekitarnya(sekarang kecamtan Hu,u)


Ncuhi Saneo
yang mempunyai wilayah kekusaan daerah Saneo dan sekitanya(sekarang kecamatan Woja Dompu).


Ncuhi Nowa
Yang mempunyai wilayah kekusaan Nowa dan sekitarnya(sekarang masuk kecamatan Woja).


Ncuhi Tonda
yang mempunyai wilayah kekusaan Tonda dan sekitarnya dan saat ini masuk dalam wilayah Desa Riwo kecamatan


Woja Dompu.
Selain empat Orang Ncuhi yang terkenal di Dompu terdapat pula Ncuhi lainya seperti Ncuhi Tolo



Fo,o,Ncuhi Katua,Ncuhi
Dorongao,Ncuhi parapimpi dan Ncuhi Dungga.para ncuhi mengusai satu wilayah dengan penduduknya di beberapa bekas pemukiman lama atau perkampungan yang di kuasai oleh para Ncuhi dan sampai saat ini nama perkampungan itu masih melekat bahkan telah di abadikan menjadi salah satu nama Desa atau kecamatan di kabupaten Dompu. Beberapa perkampungan atau negeri yang pernah menjadi wilayah kekusaan para Ncuhi itu misalnya: negeri
Tonda,negeri Soro Bawah letaknya di Doro La Nggajah letaknya ditepi pantai teluk Cempi Huu.negeri bata letaknya di Doro bata kelurahan kandai satu ,negeri Tolo fo,o letaknya di sebelah utara Dusun Rababaka Desa Matau kecamatan Woja,negeri para sada sekarang merupakan lokasi persawahan So Mangge kalo di kampung Pelita kelurahan
Bada,negeri La Rade lokasi tersebut berada di areal pertanian so Jero ,negeri dungga terletak di sekitar Dam rabalaju,negeri Dorongao letaknya di kelurahan Kandai satu . Kerajaan Dompu merupakan hasil penyatuan atau bersatunya para Ncuhi yang ada diwilayah Dompu saat itu,sistim pemerintahan berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja(sangaji)disebutah susunan Raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan dompu yang pertama.


Dewa Sang Kula


Konon Raja ini berasal dari negeri tanah seberang tokoh ini datang ke Dompu melalui laut tepatnya di wilayah telauk Cempi Hu,u menggunakan perahu yang terbuat dari Bambu betung yang masih muda dan mendarat di pantai Ria di riwo Woja,selanjutnya Sang tokoh tersebut bermukim diwilayah Riwo.dan atas kesepakatan para Ncuhi yang ada di tanah
Dompu saat itu .lantas di angkat menjadi seorang raja pertama kali di dan dompu .


Dewa Tulang Bawang.


Tokoh ini oleh masyarakat Dompu berdasarkan tuturan dari para sesepuh bahwa,Dewa tulang bawang ini konon berasal dari negeri tulang bawang sumatra tepatnya di Bukit si Guntang dewa tulang bawang mengembara di negeri Dompu. dan menurut cerita rakyat Dompu tokoh ini,datang di Dompu menggunakan perahu dan terhempas gelombang dasyat
sehingga perahu yang ditumpanginya terdampar dan berubah menjadi sebongkah batu dan oleh masyarakat Dompu batu tersebut di kenal dengan istilah Wadu Lopi.Dewa tulang bawang kemudian menikah dengan seorang putri anak dari Sang Kula Indra kumala dan selanjutnya menjadi raja dompu yang kedua.


Dewa Indra Dompu.


Merupakan putra dari Dewa tulang Bawang


Dewa mambara bisu


adalah saudara dari dewa Indra Dompu.


Dewa Mambawa Balada.
Juga saudara kandung dari dewa indra Dompu.

Daftar Bibliografi Kuno Tentang Lampung

Dikompilasi oleh:

Drs. Bintang Wirawan

A. Th. van Ginkel, 1917, De Emigratie en kolonisatieproeven der Indische Regeering.

A.J. Koens, 1915, Over Kolonisatiepreven in de Residentie Benkoelen.

A.M. Djuliati Suroyo, 2000, Eksploitasi Kolonial Abad XIX, kerja wajib di Karesidenan Kedu Verslag van der Centraal.

Ahmad Dt.Batuah/A.Dt.Madjoindo, 1956. Tambo Minangkabau, Balai Pustaka, Djakarta,

Anonim, Afs. No. 4405/20, 10 October 1905

Anonim, Besluit no. 18 tanggal 31 Mei 1939

Anonim, Besluit no. 30 tanggal 29 Januari 1937

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1913

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1915

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1916

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1917

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1918

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1919

Bernet Kempers, A. J. 1959, Ancient Indonesian Art. Cambridge.

BHATTA,, J.N. , 1957, Soal2 transmigrasi di Indonesia (Istimewa Sumatra Selatan) / Regarding
International Migration in Indonesia (with special reference to S. Sumatra). Djakarta, Balai Geografi, Direktorat Topografi Angkatan Darat, Kementerian Pertahanan. [VIII], 64, 76 pp. + 25 (partly folding) maps and graphs. Monograph on transmigration in Indonesia, especially with regards to the migration of people from Java to South Sumatra since 1905. With many statistical data. Texts in Indonesian and English.

BROERSMA, DR. R. 1916, De Lampongsche Districten. Batavia, Javasche Boekhandel en Drukkerij. Illustrated with 24 b/w photo plates and a folding map.VIII, 325 pp. Orig. gilt-lettered brown cloth. Sm. 4to. A very good copy. Encyclopaedic work on the Lampung-district of South Sumatra investigating the possibilities of the economic development of the region together with extensive notes on the history, ethnography, geography, legal system, trade, agriculture, colonization by Javanese immigrants, railroad systems etc. of the area. (B).

BRUININK-DARLANG, CHRISTIEN, , 1993, Hervormingen in de koloniale periode. Verbeteringen in het Nederlands-Indisch strafstelsel in de periode 1905-1940. . Arnhem, Gouda Quint BV. Illustrated, maps. XVI, 425 pp.; bibliography; index. Sewn, orig. decorated wrs. Study on the penitentiary system and connected reforms in the Netherlands East Indies in the period from 1905 and 1940, Trade edition of a thesis. With a summary in English.

Burger, Prof. Dr. D.H, ,1957, terj. Prajudi Atmosudirdjo, Prof.Dr.Mr., Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, J.B. Wolters, Djakarta, jilid I.

C.C.J. Maassen, 1937, "De Javaansche Landbouwkolonisatie in de Buitengewes.

C.J. Hasselman, 1914, Algemeen overzicht van de uitkomsten van het eivaartonderzoek, gehouden op Java en Madura in 1904-1905. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

CANNE, H. D., 1862, Bijdrage tot de geschiedenis der Lampongs. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-

M. Nijhoff. 18p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 11, Vierde Serie Deel 2.

Chijs, J. A. van der, 1877, Catalogus der Ethnologische Afdeeling van het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia.

CORNETS DE GROOT, H. F. W., 1882. Nota over de slavernij en het pandelingschap in de residentie Lampongsche Districten. Batavia-'s Hage, W.Bruining & Co.-M. Nijhoff 35p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 27.

D.C. Hooyer, 1912, Emigratie naar de residentie Benkoelen.
Dalom paksi (Buwai Menyata) -S.Yusputra, 1975, Kuntara Raja Niti Tanjungan Ketibung (terj. b. Indonesia).

DEPARTEMEN P dan K, 1979/1980, Sumbangan untuk mengenal sejarah daerah Lampung, terjemahan dari Tijdschrift voor Nederlandsch Indie 1874 Deel II, judul asli: Bijdrage tot de kennis der Geschiedenis van de Lampongs, (Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya - Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, terjemahan Firdaus Burhan).
Departemen P dan K, 1980, Adat istiadat daerah Lampung, Pusat Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah tahun 1977/1978.

DREWES, G. W. J. 1961. De Biografie van een Minangkabausen peperhandelaar in de Lampongs naar een Maleis handschrift in de Marsden-Collection te London uitgegeven, vertaald en ingeleid. 's-Gravenhage, Martinus Nijhoff, (4),159 p., index, 8vo wrs. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel XXXI.

DU BOIS, J. A., 1852, De Lampongsche distrikten op het eiland Sumatra. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon. 31,25p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 14de Jaargang.

EEKHOUT, R.A. , 1891, Aanleg van staatsspoorwegen in Nederlandsch Borneo en Zuid-Sumatra. Leiden, Brill. With 2 large folding maps. 31 pp. Sewn, orig. wrs.

Encyclopaedie Van Nederlands Indie, 1896, 'sGravenhage, Martinus Nijhoff, E.J. Brill, Leiden

Encyclopaedie van Ned.Indie, 2e deel, 1918. ‘sGravenhage, Martinus Nijhoff, E.J. Brill, Leiden

ESCHER, Dr. B.G. 1928. Krakatau in 1883 en in 1928. Amsterdam, K.N.A.G., 29 p., 11 figs., 2 folding maps (1 large), 2 tables, bibliography, 8vo wrs. Original extract from the periodical

K.N.A.G. (Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap)., Vol. XLV.

Galis, K. W. 1949, "Een en ander over de sociale structuur in Kaur", Tijdschrift voor Indische
Taal-, Land-, en Volkenkunde, LXXXIII: 27-58, 247-285.

Gittinger, Mattiebelle, 1972, "A Study of the Ship Cloths of South Sumatra: Their Design and Usage". Ph.D. dissertation, Columbia University, New York.

H.J. Heeren, 1979, Transmigrasi di Indonesia, Hubungan antara transmigrasi dan penduduk asli dengan titik berat Sumatra Selatan dan Tengah,

H.R. Rookmaker, 1937, De Javanen kolonisatie in de Lampongsche Districten,

HARREBOMÉE, G. J. 1885.Eene bijdrage over den feitelijken toestand der bevolking in de Lampongsche Districten. Rangen en waardigheden, uitspanningen en kleeding, godsdienst, huwelijk en de positie der vrouw. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 24p., 8vo modern wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 34. Reprint.

HAZEU, G. A. J. 1905. Een beschreven koperen plaat uit de Lampongs. Batavia-'s Hage, Albrecht & Co.,-M. Nijhoff, 12p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 48.

HELFRICH, O. L. 1891. Lampongsche raadsels, spreekwoorden en spreekwijzen. 'sGravenhage, Martinus Nijhoff, 8p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Vijfde volgreeks, Deel 6.

Hilman Hadikusuma SH, Persekutuan Hukum Adat Pubiyan Telu Suku dan fungsinya bagi
hukum adat lampung pada masa sekarang, Bunga Rampai Adat Budaya I, FH.Unila, 1973.

Hilman Hadikusuma, Hukum Adat Lampung Pepadun, Fajar Agung, 1988.

Hilman Hadikusuma, S.H Kuntara Raja Niti Pubiyan Telu Suku. 1986

Hilman Hadikusuma, S.H. Hukum Pidana Adat, Alumni Bandung. 1984

HISSINK, J. H. 1904. Het Pepadonwezen en zijne attributen in verband met de oude staatkundige indeeling in Marga's en het huwelijks- en erfrecht in de afdeeling Toelang Bawang der Lampongsche districten. Batavia-'s Hage, Albrecht & Co.,-M. Nijhoff, 99p, 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 47.

HOËVELL, W. R. van., 1862. Blik op de Lampongsche distrikten en hunne bevolking. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 11p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 24ste Jaargang.

HOËVELL, W. R. van. 1856-1857. De Lampong's. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 28,49,29p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 18de & 19de Jaargang.

HOËVELL, W. R. van. 1862. Over de landbouw-produkten der Lampongs. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 17p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 24ste Jaargang.

Hoop, A. N. J. Th. a Th. van der, 1949, Indonesian Ornamental Design. Bandoeng.
Indsich Verslag, Indisch Verslag 1941

J. van der Zwaal, 1936, De Javanen Kolonie's Gedong Tataan en Wonosobo in de Lampongsche Disricten,

J. van. Breda de Haan, 1915, Kolonisatie op de Buitenbezittingen,

J.W.J Wellan. 1932, Zuid Sumatra
Kampto Utomo, 1975, Masyarakat Transmigrasi Spontan di daerah Wai Sekampung (Lampung).
Karl J. Pelzer, 1948, Pioneer Settlement in the Asiatic Tropics, Studies in Land Utilization and Agricultural Colonization

KEMP. P.H. VAN DER, 1899. Raffles' bezetting van de Lampongs in 1818 . 's-Gravenhage, M. Nijhoff, 58 pp. - Extract BKI, Vol. 50, 1899 (pp. 1-58). Sewn, modern blind wrs. Fine, unopened copy. (C).

KIT 202, Memorie van Overgave Residentie Benkolen

KIT 203, Memorie van Overgave Residentie Benkoelen

KIT 930, Memorie Betreffende de Javanen Kolonisatie

KIT 936, Memorie van Overgave onderafdeeling Recijang 1928

Koentjaraningrat, 1975, Kebudayaan Jawa,

Kroef, J. M. van der, 1954, "Dualism and Symbolic Antithesis in Indonesian Society", American Anthropologist, 56 :847-862.

KÜHR, C. A. H. 1879. Eene proclamatie van Sir Thomas Stamford Raffles aan de Margahoofden der Lampongsche Distrikten. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 7p, 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 26.

KÖHLER, J. C. 1854. Verslag eener reis in de Lampongsche Distrikten. Batavia, Lange & Co., 21p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 3.

KÖHLER, J. C. 1856. Verslag eener reis door een gedeelte der Lampongsche Distrikten. Batavia,

Lange & Co., 18p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 5.

Langewis, L., and Frits Wagner, 1964, Decorative Art in Indonesian Textiles. Amsterdam.

LEUPE, P. A. 1875. Bijdrage tot de geschiedenis van den zeeroof in den Oost-Indischen Archipel 1800-1802. Batavia-'s Hage, Bruining & Wijt-M.Nijhoff, 66p., with 2 folding maps (De nieuw Nigori van de Zeeroversmet hun fortres, Rivier van Lampong en Bagedange & vernielde Campong gelegen in den Rivier Lampong Poeti), 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 22.

Loeber, J. A. 1903, "Het weven in Nederlandsch-Indie", Bulletin, Koloniaal Instituut (Haarlem) No. 29.

OPHUIJSEN, C. A. van. 1896. Lampongsche dwerghertverhalen. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 34p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 46).

Op't Land, C. 1968-69 "Een merkwaardige 'Tampan Pengantar' van Zuid-Sumatra", Kultuurpatronen, 10-11: 100-117.

Patrice.Levang, 2003, Ayo Ke Tanah Sabrang, Transmigrasi di Indonesia (terjemahan),

Purwanta Iskandar, 1976, "Desa Transmigrasi Sidomulyo 1937,

Roos, K. H. F. 1890, "Aanteekeningen over de afdeeling Kaoer in de residentie Benkoelen",
Tijdschrift van het Binnenlandsch Bestuur. IV: 14-33, 92-112, 145-160.

ROVERE van BREUGEL, Jonkhr. J. de. 1856. Beschrijving van Bantam en de Lampongs. Amsterdam, Batavia, Frederik Muller, van Haren, Noman en Kolff, 54p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 5. - Reprint.

Scharer, Hans, 1963, Ngaju Religion, The Conception of God Among a South Borneo People. The Hague. Translation of Die Gottesidee der Ngadju Dajak in Su'd-Borneo. 1946. Leiden.

STECK, F. G. 1862. Topographische en geographische beschrijving der Lampongsche distrikten. Amsterdam, Batavia, Frederik Muller,G. Kolff, 45,4p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Nieuwe volgreeks, Deel 4.

Steinmann, Alfred, 1937, "Les 'tissus a. jonques' de sud de Sumatra", Revue des Arts Asiatiques, XI: 131-143.

Steinmann, Alfred, 1938-39, "Uber die sogenannte Schiffstiicher von Sudsumatra", Bulletin der

Schweizenschen Gesellschaft fur Anthropologie und Ethnologie, 15: 5-6.

Steinmann, Alfred, 1946, "The Ship of the Dead in the Textile Art of Indonesia", Ciba Review, 52: 1885-1896.

Steinmann, Alfred, 1965, "Das Seelenschiff in der Textilkunst Indonesiens", Kultuurpatronen, 7:23-39.

Suhartono, 1955, Bandir-bandit Pedesaan di Jawa, Studi Historis 1850-1942,

Tillman, G. 1938a, "lets over de weefsels van de Kroe" Districten in Zuid-Sumatra", Maandblad voor Beeldende Kunsten, XV: 10-16.

Tillman, G. 1938b, "lets over de weefsels van de Lampong'sche Districten in Zuid-Sumatra", Maandblad voor Beeldende Kunsten.: 131-143.

Tobing, Ph. O. L. 1956, The Structure of the Toba Batak Belief in the High God. Amsterdam.

Turner, Victor, 1967. The Forest of Symbols. Ithaca.

TUUK, H. N. van der. 1869. Brieven van H. N. van der Tuuk, betreffende het Lampongsch. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-M. Nijhoff, 49p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 19.

TUUK, H. N. van der. 1883. Lampongsche Pijagems. Batavia-'s Hage, Bruinung & Co.-M. Nijhoff, 17p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 29.
TUUK, H. N. van der. 1869. Proeve van een vergelijkende woordenlijst van Lampongsche tongvallen. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-M. Nijhoff, 7p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 17.

VETH, Prof. P. J. 1877. -1979, Het landschap Aboeng en de Aboengers op Sumatra. Met nalezingen en verbeteringen: Een en ander over de Lampongsche districten op Sumatra. Amsterdam-Utrecht, K.N.A.G./ C.L.Brinkman, J.J.Beijers, , 14 p., in 2 columns, large folding map, textmap, 4to wrs.

ZOLLINGER, B. 1847, De Lampongsche Districten en hun tegenwoordige toestand. Batavia,. 41,22,72p., 3 folding tables, 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 9de Jaargang.

Rabu, 04 Maret 2009

Selayang Pandang Kerajaan Tulang Bawang

Kerajaan Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan hindu tertua di kepulauan Nusantara, tidak banyak juga catatan mengenai kerajaan ini karena kerajaan ini eksis sekitar abad 5-7 Masehi, kejayaan tulang bawang sebagai sebuah kerajaan tercacat.

Dalam Desertasi O.W Wolters yang berjudul Perdagangan Awal Indonesia, Suatu Kajian Asal Usul Kerajaan Sriwijaya. Tradisi Sumatera yang tidak mengenal ornamen bangunan dibuat dengan memakai batu kali akan tetapi lebih pada kayu menyebabkan banyak peninggalan kerajaan ini tidak terdeteksi dengan apik, akan tetapi berdasar pada cerita-cerita masyarakat Tulang Bawang serta menurut Historian Belanda Naarding memperkirakan kerajaan ini terletak di way tulang bawang, antara kota menggala dan Pagar Dewa.

for detail please click address below:

http://history.melayuonline.com/?a=aVRzL21OTy9FUFk4UWdh=

Marga di Lampung

Source: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Sumber Hilman Hadikusuma)

Lampung mengenal marga-marga yang mulanya bersifat geneologis-territorial. Tapi, tahun 1928, pemerintah Belanda menetapkan perubahan marga-marga geneologi-teritorial menjadi marga-marga teritorial-genealogis, dengan penentuan batas-batas daerah masing-masing.
Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala marga atas dasar pemilihan oleh dan dari punyimbang-punyimbang yang bersangkutan. Demikian pula, kepala-kepala kampung ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan oleh dan dari para punyimbang.

Please Click Link Below:

http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_di_Lampung

Minggu, 01 Maret 2009

Lampung

Source From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search
Lampung


Motto: "Sang Bumi Ruwa Jurai"

Map showing Lampung province in Indonesia
Capital Bandar Lampung
Governor Sjachroedin ZP
Area 35,376 km2 (13,659 sq mi)
Population 6,731,000 (2000)
Density 190.3 /km2 (493 /sq mi)
Ethnic groups Javanese (62%), Sundanese (9%), Peminggir (6%), Pepadun (4%), Malay (4%), Bantenese (3%) [1]
Religion Muslim (92%), Protestant (1.8%), Catholic (1.8%), Buddhist (1.7%)
Languages Indonesian
Time zone WIB (UTC+7)
Web site http://www.lampung.go.id

Lampung is a province of Indonesia, located on the southern tip of the island of Sumatra. It borders the provinces of Bengkulu and South Sumatra. Lampung is the original home of the "Lampung" tribe, who speak a distinct language from other people in Sumatra and have their own alphabet.

The province has a population of 6,654,354 (As of 2000 census). A large portion of the current population of Lampung is descended from migrants from Java, Madura, and Bali. These migrants came both spontaneously, in search of more land than was available on the more densely populated islands, as well as part of the government's transmigration program, for which Lampung was one of the earliest and most important transmigration destinations.

Lampung is commonly known for its geographical instability in terms of earthquakes and volcanoes. On May 10 2005, a strong earthquake measuring 6.4 on the richter scale struck the province. The historical volcano blast of Krakatau occurred in 1883, which resulted in disastrous consequences.

Contents

[hide]

[edit] Administration

Lampung is divided into 9 regencies:

and 2 cities: Bandar Lampung and Metro

Some of the major produce in the country includes robusta Coffee beans, Cocoa beans, coconuts and cloves. This has resulted in a thriving agricultural sector with companies like Nestlé procuring coffee beans from the region. This agriculture has included illegal growing in Bukit Barisan Selatan National Park.[2] In addition, Nata de Coco is also manufactured in the region by domestic companies like Wong Coco.

[edit] Textile

Up until the 1920s, Lampung had a rich and varied weaving tradition. Lampung weaving used a supplementary weft technique which enabled coloured silk or cotton threads to be superimposed on a plainer cotton background. The most prominent Lampung textile was the palepai, ownership of which was restricted to the Lampung aristocracy of the Kalianda Bay area.[3] There were two types of smaller cloths, known as tatibin and tampan, which could be owned and used by all levels of Lampungese society. Weaving technologies were spread throughout Lampung. High quality weavings were produced by the Paminggir, Krui, Abung and Pesisir peoples. Production was particularly prolific among the people of the Kalianda Bay area in the south and the Krui aristocracy in the north.

The oldest surviving examples of Lampung textiles date back to the eighteenth century,[citation needed] but some scholars believe that weaving may date back to the first millennium AD when Sumatra first came under Indian cultural influence.[who?] The prevalence of Buddhist motifs, such as diamonds, suggests that the weaving traditions were already active in the time when Lampung came under the Buddhist Srivijayan rule. There are similarities between Lampung weaving and weaving traditions in some parts of modern-day Thailand that experienced cultural contact with Sriwijaya.

Lampung textiles were known as 'ship cloths' because ships are a common motif. The ship motif represents the transition from one realm of life to the next, for instances from boyhood to manhood or from being single to married and also represents the final transition to the afterlife.[3] Traditionally, Lampung textiles were used as part of religious ceremonies such as weddings and circumcisions. For instance, the palepai cloths were used as long ceremonial wall-hangings behind the bridal party in aristocratic marriages. The smaller, more humble tampan cloths were exchanged between families at the time of weddings.

Production of many fine cloths blossomed in the late nineteenth century as Lampung grew rich on pepper production, but the devastating eruption of Krakatoa in 1883 destroyed many weaving villages in the Kalianda area.[citation needed] By the 1920s the increasing importance of Islam and the collapse of the pepper trade brought production to a halt.[citation needed] Today Lampung textiles are highly prized by collectors.

[edit] References

  1. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003.
  2. ^ Claire Leow. Nestlé to scrutinize Indonesia coffee amid wildlife-endangerment fears, International Herald Tribune.
  3. ^ a b "Ceremonial Hanging (palepai)". Pacific Islands art. Dallas Museum of Art. http://www.dallasmuseumofart.org/Dallas_Museum_of_Art/View/Collections/Pacific_Islands/ID_011092. Retrieved on 2007-09-26.

[edit] Further reading

  • Elmhirst, R. (2001). Resource Struggles and the Politics of Place in North Lampung, Indonesia. Singapore Journal of Tropical Geography. 22(3):284-307.
  • Pain, Marc (ed). (1989). Transmigration and spontaneous migrations in Indonesia : Propinsi Lampung. Bondy, France: ORSTOM.

Menimbang Beberapa Potensi Dasar Lampung

Harry Warganegara

Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, alumnus City University of New York
Source: lampost Kamis, 25 September 2008

Lampung dahulu terkenal sebagai kota dagang dan penghasil hasil bumi yang terkenal tidak hanya di kawasan Nusantara tetapi sampai peringkat global. Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan O.W. Wolters dalam disertasi doktornya di University of London yang berjudul Early Indonesian Commerce: A Study of Origins of Srivijaya tahun 1967. Dia menjelaskan dalam disertasi tersebut, dahulu sekali diperkirakan kurun waktu abad ke-4 sampai ke-6 terdapat sebuah kerajaan di tenggara Pulau Sumatera yang kelak dikenal sebagai Kerajaan Tulangbawang.

Kerajaan Tulangbawang merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar di Pulau Sumatera pada masa itu yang tercatat secara aktif mengadakan kontak dagang dengan Kekaisaran China. Pada bagian lanjutan, seakan tidak mau melupakan romantisme masa lalu, pihak kolonial Belanda misalkan pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20 menjadikan Port Menggala salah satu pusat perdagangan di rantau Sumatera.

Pada abad ke-19 dan ke-20, kopi dan lada lampung menjadi primadona dunia. Bayangkan saja, dengan minus infrastruktur dan kondisi sebagai tanah jajahan kolonial Belanda, nama Lampung dikenal dunia sebagai salah satu produsen kopi dan lada dunia.

Bagi saya, romatisme masa lalu menjadi hal yang penting untuk diingat bukan untuk berbesar hati, akan tetapi diambil hikmah sebagai cermin memompa semangat ke-Lampung-an bagi membawa kembali negeri di ujung Pulau Swarnadwipa sebagai salah satu pusat kecenderungan di Indonesia.

Dengan melihat potensi besar SDM (sumber daya manusia) maupun potensi SDA (sumber daya alam) yang dimiliki Lampung hari ini, sebenarnya provinsi ini layak menjadi sebuah provinsi makmur dan percontohan di Pulau Sumatera. Terdapat empat hal potensial Lampung dan merupakan aset yang belum dimanfaatkan maksimal.

Pertama, memaksimalkan potensi wisata budaya dan ecotourism. Sebagai daerah yang dinamis dan multietnik, Lampung sebenarnya mempunyai potensi besar untuk dapat "menjual" keberagaman etnik tersebut. Sebagai contoh para wisatawan tidak perlu ke Bali jika hanya menikmati budaya masyarakat Bali, cukup dua jam dari Bandar Lampung ke arah Raman Utara di sana terdapat profiling komunitas masyarakat Bali di provinsi ini.

Dalam konteks budaya Lampung sendiri, misalkan, pembagian secara adat antara Pepadun dan Saibatin juga kemudian melahirkan corak budaya tersendiri. Perbedaan inipun sebenarnya sebuah potensi wisata budaya yang luar biasa, yang dapat diangkat menjadi aset daerah.
Pada bagian lain, misalkan, potensi ecotourism juga merupakan bagian lain dari potensi wisata di provinsi ini yang dapat dimanfaatkan. Banyak sekali pulau persinggahan, pantai, gunung, sungai, bukit, dan ngarai yang indah dan layak diangkat sebagai aset potensi wisata.

Kedua, memaksimalkan potensi pelabuhan Bakauheni. Tidak banyak provinsi di Indonesia yang mempunyai entry port dan salah satunya adalah Provinsi Lampung.
Selayaknya perlu tangan-tangan profesional untuk memaksimalkan potensi pelabuhan Bakauheni tersebut, bagaimana mengalihkan sedikit peran Pelabuhan Tanjungpriok yang sudah crowded menjadi milik Pelabuhan Bakauheni.

Ketiga, memaksimalkan potensi biomassa. Pencarian energi alternatif menjadi tema global hari ini. Kenaikan harga minyak bumi telah mengguncang perekonomian global, tidak hanya negara-negara miskin akan tetapi negara adidaya Amerika Serikat saja mengalami resesi.
Ke depan, negara-negara yang menguasai sumber energi akan menjadi pusat kecenderungan dunia. Lampung, menurut data angka yang tersedia, mempunyai potensi biomassa yang begitu besar dan masih belum dimanfaatkan secara maksimal.

Keempat, memaksimalkan potensi coorporate social responsibility (CSR) sebagai sebuah pola kemitraan antara perusahaan profit oriented dengan masyarakat. Banyak perusahaan besar di provinsi ini, perusahaan yang bergerak di bidang pembenihan udang, gula sampai tapioka.
Semua perusahaan tersebut adalah perusahaan besar di Indonesia yang secara etika bisnis terikat dengan CSR. Pada bagian ini sebenarnya pemerintah daerah dapat mengambil peran melakukan link and match terhadap potensi dana-dana CSR tersebut, terutama sekali bagaimana menjembatani pemanfaatan dana-dana CSR sampai ke masyarakat.

Untuk menunjang potensi-potensi tersebut, penting juga bagi pemerintah daerah melakukan terobosan-terobosan mendesain kawasan-kawasan percepatan pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, apa yang dilakukan Provinsi Riau dengan membuka kawasan segitiga ekonomi yang dikenal dengan istilah Sijori (Singapura, Johor, dan Riau).

Dengan merancang kawasan berikat seperti Sijori, eskalasi pertumbuhan ekonomi Riau dapat dipacu. Lampung dapat mencontoh apa yang dilakukan Provinsi Riau, dengan mewujudkan kawasan berikat Singapura, Johor, dan Lampung. Ke depan, peluang investasi di Lampung semakin berwarna.

Akhirnya membentuk secara simultan model pemerintahan yang kreatif dan inovatif menjadi sangat penting. Ke depan, pemerintahan lokal yang baik adalah pemerintahan yang efektif dan efisien memanfaatkan sumber daya (resources), "cerdas" mendapatkan investasi serta mampu secara bertahap meminalisasi ketergantungan secara simultan terhadap subsidi pemerintah pusat.

Menggala Tergerus Dangdut

Menggala Tergerus Dangdut

Source: Lampungpost (Minggu, 14 Desember 2008)


MENGGALA--Kota tua Menggala sesungguhnya merupakan kota yang memiliki sejarah kejayaan di masa silam, tapi kini hanya tinggal kenangan. Bagaimana Menggala berada, inilah sekelumit cerita sejarah yang di paparkan mantan Pejabat Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala periode 1993--1994, Rukhyat Kusuma Yuda (71).

Meskipun usianya sudah terhitung uzur, semangatnya masih terlihat menggelora jika menceritakan tanah kelahirannya Menggala. Menurut dia yang ditemui Jumat (12-12) di rumah dinas Camat Menggala, keberadaan Kota Menggala bisa dilihat sejak abad ke-19. Saat itu Lampung menjadi daerah protektorat, yaitu bawahan Kerajaan Banten. Akan tetapi, sejak 1948 saat Kerajaan Banten dikuasai Belanda, pemerintahan Menggala pun diatur dengan cara-cara Belanda. Jadi otoritas Lampung menjadi jajahan Belanda.

Kemudian setelah Belanda hengkang dari Menggala, pemerintahan menjadi sistem marga (adat) yang sampai sekarang masih kita kenal dengan empat marga (Megou Pak), walaupun sekarang kegiatan marga (adat) tidak jalan.

Rukhyat menjelaskan tahun 1952 dari pemerintahan marga berubah menjadi pemerintahan negeri yang dipimpin kepala negeri. Pemerintahan negeri dihapus tahun 1972--1973 sehingga aktivitas pemerintahan diambil alih onderdistrik atau setingkat kecamatan. Kecamatan merupakan bagian dari kewedanaan yang orang Belanda sebut sebagai distrik. Sebenarnya saat Jepang berkuasa 1946, di Menggala juga sudah kenal istilah camat yang dijabat vukuhkunco, saat itu Jepang hanya sebagai pengendali kewedanaan.

Menggala, kata Rukhyat yang juga pernah menjadi asisten wedana, kemudian berubah menjadi camat kepala wilayah sesuai dengan UU No.18 Tahun 1965. Terakhir, camat tanpa embel-embel kepala wilayah, tentu sesuai dengan UU 32/1999. Sebab, yang namanya camat atau bupati pasti kepala wilayah di tingkatannya.

Kota tua Menggala awalnya memiliki rumah panggung dengan ketinggian tertentu guna menghindari gangguan binatang dan banjir. Sejak sekitar 1920-an mulai ada bangunan rumah menggunakan semen, tapi sebelum itu masih panggung. Dan sampai sekarang masih ada beberapa rumah adat dengan usia sekitar ratusan tahunan: Rumah adat milik keturunan Pagar Alam, rumah milik keturunan Warga Negara dan rumah H. Husen. Semuanya belum ada perubahan sama sekali dan masih asli. Crri khas rumah adat ialah memiliki semacam tempat untuk bermusyawarah.

Ada dua peninggalan Belanda yang masih bisa dimanfaatkan: Kantor Pos Menggala dan Gedung Perwatin. Gedung itu sempat dijadikan Kantor Bappeda. Gedung itu sudah berusia ratusan tahun karena tahun 1905, ayah Rukhyat Kesuma Yuda, Raden Panji Kesuma Yuda, telah berkantor di Gedung Perwatin. Ayahnya, kata Rukhyat, sempat menjadi demang selama dua periode, yakni tahun 1921 hingga 1927 dan periode kedua 1932 hingga 1942.
Menggala dahulu pernah menjadi pusat pemerintahan, perdagangan ,dan pendidikan. Sebab, saat itu di Lampung hanya ada dua sekolah Belanda yang disebut HIS. Yang pertama di Telukbetung dan kedua di Menggala.

Maka, saat itu banyak putra Menggala sudah terdidik, bahkan Jenderal Ryacudu pernah sekolah di Menggala. Menggala juga pernah menjadi pusat perdagangan karena dahulu hanya ada dua pelabuhan: Telukbetung dan Pelabuhan Menggala.

Kemudian Menggala pernah menjadi pusat pemerintahan karena dahulu memang sempat dijadikan tempat asisten residen. Setelah Perang Dunia II, asisten residen diganti hanya menjadi kontroliur (HvB). Lalu menjadi pusat kebudayaan karena dahulu Menggal menjadi pusat sanggar tari terkenal, tempat pembuatan tapis dan siger, pembuatan kopiah resem, anyaman tikar, dan alat-alat memasak. Maka itulah, kata Rukhyat, Menggala sempat dijuluki Paris van Lampung oleh bangsa asing.

Ciri khas masyarakat Menggala ialah dari dahulu menjadi nomor satu adalah masalah politik. Politik di Menggala sangat kritis karena sedikit saja ada masalah, pasti mencuat ke permukaan dan tidak jarang saling menjatuhkan. Tiga daerah di Lampung yang paling kritis dalam urusan politik, yaitu Menggala, Krui, dan Sukadana.

Di bawah tahun 1970-an jarang orang mau jadi camat di Menggala karena jarang yang berhasil. Menggala bisa diibaratkan daerah buangan atau daerah ujian. Jika camat yang bertugas di Menggala gagal, hal itu biasa. Akan tetapi, kalau sukses menjadi sangat luar biasa. Jadi bertugas di Menggala memang harus berani.

Kini Menggala justru menjadi kota tua yang tertinggal dari berbagai segi dari daerah-daerah lain. Sebab, tidak ada lagi acara-acara menggunakan simbol-simbol adat, tidak ada lagi begawi. n WIDODO/M-1a