Rabu, 05 Agustus 2009

Video Mengenai Lampung

Video Mengenai Lampung : http://www.youtube.com/watch?v=9iw5jtX5tZU

Selasa, 26 Mei 2009

Standardisasi Bahasa Lampung: Polemik Pemerintah, Adat, dan Akademisi

Imelda, peneliti bidang Antropologi Linguistik di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, LIPI-Jakarta.

PASCAREFORMASI pembicaraan yang mengangkat tema-tema kearifan lokal menjadi pembicaraan yang menarik untuk diikuti. Terlebih lagi ketika kearifan lokal tersebut dianggap menjadi jawaban atas kerusakan alam dan kehidupan sosial untuk menjadi ancangan strategis melakukan pembangunan di daerah, khususnya Lampung.

Salah satu hal yang menjadi polemik dan menarik dalam sebuah seminar di Universitas Lampung beberapa waktu lalu ialah masalah standardisasi bahasa Lampung. Hal ini menjadi perdebatan yang menarik ketika pembicara, baik itu kalangan struktur, pemangku adat, serta akademisi memiliki jawaban yang berbeda.

Inti permasalahannya ialah isoleks Lampung yang mana yang akan dijadikan standar bahasa Lampung yang akan dimunculkan di tingkat nasional dan internasional karena dalam seminar tersebut saya mendengar bahwa Lampung yang harus muncul itu adalah Lampung yang satu.
Lampung yang satu menjadi sebuah kata kunci yang kemudian juga, menurut asumsi saya, menjadi latar kemunculan polemik Sang Bumi Ruwa Jurai atau Sai Bumi Ruwa Jurai. Meski demikian, setakat ini saya tidak ingin mengangkat polemik sai dan sang karena perdebatan mengenai standardisasai bahasa Lampung ini menjadi lebih menarik karena ada pertimbangan-pertimbangan tidak rasional, secara akademik, yang menggelitik ruang pikiran saya sebagai peneliti bahasa sekaligus orang Lampung.

Lampung merupakan sebuah ruang yang saya diami sejak saya lahir dan di sana pula saya tahu bahwa ada berbagai macam isoleks yang menurut peneliti pendahulu yang berasal dari negeri Belanda, disebut dialek a dan o. Namun, seiring dengan perkembangan masyarakat yang cair, entitas yang berhubungan dengan kebahasaan ini terus berkembang dan makin hari jaraknya makin meluas sehingga memunculkan dialek yang berbeda serta jarak kemengertian yang makin meluas.

Dalam seminar tersebut saya mendengar pula pendapat yang mengatakan bahwa pada masa lalu bahasa Lampung itu satu, akan tetapi menjadi berbeda ketika persebaran dan kontak dengan para pendatang menjadikan bahasa Lampung sebagai dua dialek yang berbeda.

Pendapat pertama mengenai standardisasi bahasa Lampung ialah pendapat seorang pejabat struktural yang mengatakan Lampung harus mempunyai satu bahasa standar. Ia menambahkan ragam bahasa yang selayaknya diangkat ialah bahasa "Lampung cadang" yang menurutnya dapat dimengerti orang Lampung dengan berbagai dialeknya.

Pendapat tersebut sekilas terdengar menjembatani perbedaan dialek, tetapi terdengar sangat eksentrik karena orang-orang Lampung yang merasa bahasanya tidak cadang (rusak) tentu keberatan. Pertanyaannya kemudian adalah apakah masyarakat dapat menerima ketika ragam Lampung cadang diangkat menjadi bahasa standar?

Pendapat lain ialah pendapat yang dikemukakan pemuka adat yang cukup terkemuka di Lampung. Dia mengatakan tidak perlu melakukan pemilihan bahasa seperti itu karena yang menjadi pengikat bahasa Lampung ialah bahasa tulisnya. Beliau juga menambahkan bahwa untuk berbahasa dengan dialek apa saja tidak menjadi permasalahan karena beliau cukup mengerti, meskipun berbeda dialek.

Selain pendapat mengenai kemengertian, secara eksplisit dia pun menambahkan berbahasa dengan dialek api lebih disukai karena terdengar lebih halus dan sopan. Apakah kemudian bahasa berdialek a yang seharusnya diangkat? Tentu ini masih menjadi tanda tanya karena, sepanjang pengetahuan saya, egoisme subetnis Lampung masih cukup kental.

Pendapat-pendapat yang dikemukakan pemuka adat tersebut tidaklah keliru, tetapi menjadi bertabrakan ketika pemerintah daerah harus mengalokasikan dana untuk pengembangan kebahasaan di Lampung. Biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan dialek menjadi bahasa tentu menjadi pertimbangan. Persoalan dana kemudian membuat elite birokrat Lampung untuk memilih dialek mana yang akan dikembangkan karena dialek tersebut kemudian akan dibuat menjadi buku pelajaran yang kemudian dengan konsekuensi dikenal dan dimengerti secara luas oleh generasi muda di Lampung.

Pendapat lain ialah pendapat implisit seorang elite ilmu yang dikemukakan peneliti bidang teknologi yang membuat kamus digital bahasa Lampung dengan dialek yang dikuasainya. Tidak menjadi masalah ketika kemudian pembuatan kamus digital tersebut menjadi karya pribadi, tetapi akan menjadi masalah ketika kamus tersebut tidak menjawab kebutuhan masyarakat luas akan dialek yang sepantasnya dikembangkan untuk masyarakat.

Pemilihan dialek yang tidak dilakukan secara cermat, tidak hanya mengambur-hamburkan biaya yang besar, tetapi juga menjadi tidak begitu bermanfaat ketika masyarakat luas tidak menerima dialek yang dikembangkan. Dengan kata lain, jerih payah akademis yang disalut dengan obsesi pribadi hanya akan menjadi pemborosan karena respons masyarakat yang kurang atau malah tidak ada.

Pendapat-pendapat yang dikemukakan dalam seminar tersebut berakar pada ketidaktahuan akan action yang seharusnya diambil ketika identitas ke-Lampung-an ingin diangkat dalam tataran yang lebih luas, dunia, khususnya dalam hal kebahasaan. Selain itu, belum ada kerja yang harmonis antara pemerintah, adat, dan akademisi.

Dalam hal pengembangan kebahasaan diperlukan dialog yang egaliter antara pemerintah, adat dan akademisi karena tidak ada salah satu di antaranya yang memiliki kewenangan lebih karena kerja standardisasi ini bukan untuk kepentingan pemerintah, adat atau akademik saja, melainkan lebih jauh, untuk kepentingan generasi muda yang akan memakai dan mengembangkan bahasa Lampung standar.

Catatan:

Isoleks merupakan sebuah istilah yang digunakan dalam ilmu linguistik untuk mengacu pada suatu ragam wicara kelompok masyarakat yang belum diketahui statusnya sebagai bahasa atau dialek. Sampai kini, dialek yang diketahui secara luas di lampung ialah dialek a dan o.

Source: Lampost 24 Mei 2009

Senin, 18 Mei 2009

BAHASA LAMPUNG DAN MASYARAKAT ADAT LAMPUNG

Oleh:

Marwansyah Warganegara (TMII, Jakarta 1994)

Bahasa Lampung termasuk rumpun keluarga bahasa Austronesia yang dapat di bagi dalam dua golongan yaitu :
1. Bahasa Belalaw berlogat A
2. Bahasa Abung berlogat O

1. Bahasa Belalaw terdiri dari :
a. Bahasa Jelma Daya yang di pakai orang di daerah Muara Dua Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan, Way Kanan.
b. Bahasa pemanggilan Peminggir yang dipakai oleh orang bunga mayang Sungakai , Martapura disepanjang peisir Teluk Semangka , Ranauder Skala Brak
c. Bahasa Melinting Peminggir yang dipakai orang disekitar pegunungan Raja Bas Way Handak
d. Bahasa Pubian ynag dipakai oleh disekitar Way Sekampung , Belau Rantau Tijang Pugung dan Negeri Bapayungungan.

2. Bahasa Abung terdiri dari :
a. Bahas aAbung yang dipaki oleh orang-orang di daerah sepanjang Way Abung , Way Rarem, Way Terusan, Way Pengubuan, Way Seputih, Way Batang Hari, Way Sekampung Ilir termasuk juga orang-orang yang merembes ke daerah Marga Balaw seperti Gedung Meneng, Lbuhan Ratu dan Langka Pura.
b. Bahasa Tulang Bawang yang dipakai oleh orang- orang sepanjang Way Tulang Bawang mulaidari gunung Terang, Kerta, Pagar Dewa, Menggala, Gedung Aji sampai ke Dente Teladas.
c. Bahasa Melinting sekampungLabuhan Meringgai dan di sepanjang Way Sekampung bagian Ilir.


MASYARAKAT ADAT LAMPUNG

Dalam masyarakat Lampung seluruh warga harus mematuhi semua ketentuan dalam hukum adat cepalo. Ketentuan itu berupa larangan terhadap perbuatan dan ucapan yang tidak baik di dalam adat. Pelanggaran adat larangan tersebut akan dijatuhi hukuman sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Hukuman itu berupa denda, pengucilan dari adat dan yang paling berat dihukum mati. Jadi dalam adat Cepalo masing-masing anggota masyarakat adat menerima hukuman secara pribadi, tetapi di dalam adat ngejuk ngakuk seperti perkawinan adat antara bujang dan gadis, maka yang wajib memikul tugas adat adalah pemimpin adat (penyimbang adat) di dalam Jurai yang bersangkutan yaitu penyimbang Jurai /sebatin.

Begitu juga dalam adat kebumian hak dan tanggung jawab adat berada dalam tangan Punyimbang /Sebatin selaku pemimpin adat delam Jurainya. Disini kita dapat melihat bahwa warga masyarakat Lampung trbagi dalam dua golongan yaitu :
1. Golongan Pemangku Adat
2. Golongan Bukan Pemangku Adat

Dalam perkembangan selanjutnya warga masyarakat adat Lampung terutama yang beradat Pepadun terbagi dalam dua golongan yaitu :
1. golongan Lampung jajar
2. Golongan Lampung sebah

Dua golongan ini timbul akibat dari cara pengambilan dan tujuan mengawini seorang gadis oleh seorang kepala adat. Bilamana pengambilan dilakukan secara adat dengan tujuan menjadai istri raja maka keturunannya disebut Lampung Jajar. Tetapi kalau diamil tidak secara adapt dan tujuannya untuk menjadi isteri Senebah , maka keturunannya disebut Lmapung Sebah.
Isteri seorang kepala adapt yang mempunyai kedudukan dalam adapt disebut Inggeman yang mempunyai empat tingkatan :

1. Pertama Inggeman Pereppu
2. Kedua Inggeman Pematu
3. Ketiga Inggeman Pengelaku
4. Keempat Inggeman Penyerudu

Masing – masing mereka menempati kamar :
1. Apai/ Kebik Pereppu
2. Apa I / Kebik Belangan
3. Apa I / Kebik Tengah
4. Apa I / Kebik Serudu

Isteri Senebah seorang kepala adapt yang disebut Isikan terdiri dari beberapa macam :
1. Yang diambil untuk Senebah disebut Gundik
2. Yang asalnya Pengajin ( bawaan isteri adapt ) disebut Pengisik
3. Yang berasal dari Taban ( rmpasan perang ) disebut Pacal
4. Yang diambil sebelum kepala adapt mengambil isteri Inggeman disebut Penunggu.

Ada juga lelaki dan perempuan yang didapat dari membeli atau budak belian disebut beduwo. Mereka bertempat tinggal diladang atau huma. Jadi semua isikan disebut Lampung Sebah.
Keturunan Lampung Jajar diberi hak untuk mendirikan adapt / memiliki kekuasaan adapt sampai tingkat kepenyimbangan, melalui ketetapan adapt yang ada. Tingkattan kepenyimbangan itu adalah sebagai berikut :
1. Penyimbang Bumi
2. Penyimbang Ratu
3. Penyimbang Dalem
4. Penyimbang Batin
5. Penyimbang Gayo

Tingaktan ini berdasarkan kedudukan ibunya atau kedudukan yang bersangkutan dalam saudara seibu.

Tentang Lampung Sebah pada mulanya dalam adat Lampung Pepadun sama sekali tidak boleh mendirikan adat. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masyarakat dan adat yaitu lebih kurang abad 20 adat sudah membolehkan keturunan Lampung Sebah mendirikan adat dengan persyaratan antara lain berupa :

Sekurang- kurangnya sudah lima kerbau diberikan kepada penyimbang
Memberikan bahan makanan setiap waktu panen Beberapa persyaratan lain bagi penyimbangnya dan penyimbang- penyimbang dalam kampungnya
Kepenyimbangan yang dipakai baruu penyimbang Gayo

Dalam keadaan terbuka untuk memiliki hak adat semacam ini maka warga masyarakat Lampung Pepadun sebagian besar dapat menghayati isi dan hakekat adat. Dengan demikian timbulah kegiatan masyarakat Lampung Pepadun untuk menaikkan harkat dan kepenyimbangan dengan Begawi Adat Cakak Pepadun.

Sebaliknya dalam masyrakat adat Lampung Sebatin ( Peminggir ) hak adat hanya dimiliki oleh seorang dalam satu kampung hingga hukum adat hanya dihayati oleh beberapa orang saja dalam satu kampung. Akibat tidak meratanya penghayatan dapat memegang teguh norma- norma adat, lebih–lebih jika dalam kampungnya banyak warga pendatang dari luar daerah.
Pada masyarakat Lmapung adat Sebatin keturunan Ratu di Belalaw (Paksi Pak Skala Brak) sebenarnya ada Pepadun pertama terbuat dari kayu Melasa Kepampang yang di anut oleh Ratu Empat semula di Bukit Pesagi akibat system Pepadun yang tidak dikembangkan sedangkan masyarakatnya sudah berkembang biak secara kuantitas maupun secara kualitas, maka dahulu telah timbul perebutan hak dalam penguasaan Pepadun tersebut.

Oleh pemerintah Belanda yaitu Residen bengkulu di putuskan bahwa hak menguasai Pepadaun tersebut jatuh ke tangan Marga Buay Belunguh. Sejak itu penggunaan Pepadun setiap perayaan adapt dalam Paksi Pak Skala Brak jarang sekali di lakukan. Mereka menganut adat Sebatin sebagaimana yang ada sekarang. Terakhir dalam tahun dalam rangka pengangkatan Paksi Buay Parenong kebiasaan menggunakan Pepadun Melasa Kepampang diterapkan kembali.

CEPALO: NORMA ADAT LAMPUNG

ADAT CEPALO
Marwansyah Warganegara
(Anjungan Lampung TMII, 1994)

Sebagaimana lajimnya setiap suku bangsa di dunia mempunyai adat istiadat, sekalipun tingkat kebudayaannya masih rendah. Demikian pula halnya suku Lampung mereka sejak semula telah memiliki adat istiadat. Adat yang merupakan peraturan dan ketetapan sebagai hasil musyawarah sejak ada mereka berdiam disekitar Danau Ranau.

Setelah mereka berada di Skala Brak Bukit Pesagi lalu di tambah dan disempurnakan. Adat yang mula-mula itu disebut Cepalo Dua Belas. Adat Cepalo ini berisi larangan-larangan dengan sangsi-sangsibagi setiap pelanggaran, serta hukuman mati. Cepalo Dua Belas ini diwujudkan dalam bentuk Kain Tabir (Lassai) sapu tangan dan taplak dengan cara menyambungkan satu dengan lain, terdiri bermacam-macam warna :

Isi Cepalo Dua Belas sebagai berikut :
1. Dilarang melihat isteri dan anak gadis orang lqin dengan pandangan mencurigakan.
2. dilarang berbicara yang kotor, menghasut, memfitnah orang lain.
3. Dilarang duduk lebih tinggi tempatnya dari pada orang yang lebih tua .
4. Dilarang terbuka kemaluannya ditempat orang ramai.
5. Dilaran tidur tengkurap di gardu kampung pada waktu siang hari, sedangkan para ibu dan gadis lewat di situ.
6. Dilarang memulkul perut sendiri di dekat wanita yang sedang hamil.
7. Dilarang naik ruma orang lain dari pintu belakang.
8. Dilarang seorang tamu masuk ruang tanmu atau tengah rumah tanpa izin tuan rumah.
9. Dilarang orang laki-laki ditepian kakus tempat wanita atu sebaliknya.
10. Dilarang mengambil buah-buahan milik orang lain tanpa meminta lebih dahulu.
11. Dilarang melarikan isteri orang lain.
12. Dilarang berbuat mesum.

Dari nomor 1sampai 10 mendapat hukuman denda, sedangkan nomor 11 mendapat pengucilan dari adapt dan keluarga serta nomor 12 hukuman dibunuh mati.

Adat Cepalo Dua Belas ini kemudian dikembangkan jumlahnya menjadi dua puluh empat, empat puluh dan terakhir delapan puluh.

Bila kita perhatikan adat Cepalo ini bertujuan mendidik dan menanamkan nilai-nilai dasar dari akhlak dan budi pekerti yang luhur sehinggga mereka kelak dapat bergaul dalam masyarakat dan dapat mennjadi pemimpin masyarakat yang dapat di senangi.

Setelah mereka berada di Bukit Pesagi mereka menyusun suatu peraturan tentang cara melaksanakan perkawinan mulai dari proses awal sampai akhir yang disebut adapt Ngujuk Ngakuk yang disingkat dengan Adat Pengakyuk. Maksudnya ialah bagaimana cara memberi dan mengambil seorang gadis yang akan menikah dengan seorang bujang. Bebrapa ketentan dalam Adat Ngejuk Ngakuk ini ialah :

1. Bilamana mengambil gadis keturunan Lampung dari Pemangku Adat, maka dari pihak yang akan mengambil gadis diwajibkan menyerahkan daw (benda) sejumlah sama ( 400 real)
2. Bagi anggota keluarga lain yang bukan Pemangku Adat, jumlah dawnya hanya satak ( 200 real).
3. gadis harus di pinang lebih dahulu melalui orang tuanya dan keluarga besar.
4. Mempelai wanita harus di berangkatkan dari Lunjuk Peccah Aji dan diterima dan ditemukan (kawin adat) juga di atas Lunjuk Peccah Aji.
5. Peristiwa ini harus dirayakan ndengan memotong kerbau baik ditempat gadis maupun ditempat bujang.
Lebih jelas tentang adat Ngejuk Ngakuk dealam perkembangan selanjutnya yang tertera dalam pasal-pasal belakang.

Pasal-pasal adat Cepalo Dua Belas dari Ranau di tingkatkan menjadi dua puluh empatyang kelak bertambah menjadi dalam keterem adat Abung Siwo Migo dan menjadi delapan puluh dalam adapt Pubian Telu Suku serta adapt Seputih Bandar Pak. Ditinjau dari proses pembentukan dan tujuan diadakannya maka ada tiga macam adat :
1. Adat Cepalo
2. Adat Ngejuk Ngakuk
3. Adat Kebumian

Ditinjau dari sifatnya ada tiga macam :
1. Adat Kutara
2. Adat Keterem
3. Adat Puratti

Adat Kutara adalah buku seperti apa terbentuknya dahulu. Adat Keterem adalah hasil perundingan untuk mencari jalan keluar terhadap suatu keadaan yang memerlukan pengesahan yang tidak da dalam adapt Kutara. Adapt Puratti Yurisprudensi dari adapt Keterem sehingga nampaknya sudah menjadi adapt yang sebenarnya padahal hanya kebiasaan saja.
A. Nama-nama Lingkungan Adat Pepadun :
1. Lingkungan adat Migo
a. Marga Buay Nunyai
b. Marga Buay Beliyuk
c. Marga Buay Kunang
d. Marga Buay Selagai
e. Marga Buay Tuho

2. Lingkungan Adat Bandar
a. Marga Buay Subing
b. Narga Buay Unyi
c. Marga Buay Nuban
d. Marga Tiga
e. Marga Buay Nyerupo Seputih

3. Lingkungan Adat Suku
a. Marga Pubian Way Seputih
b. Marga Pubian Doh
c. Marga Bukujadi
d. Marga Merak Batin
e. Maega Balau
f. Marga Pugung
g. Marga Ketibung

4. Lingkungan adat Sumbai
a. Marga Buay Pemuka
b. Marga Buay Bahuga
c. Marga Buay Semengu
d. Way KAnan + Sungkay

Marga Buay Baradatu
a. Marga Buay Bara Sakti
b. Marga Bunga Mayang

Megow Pak Tulang Bawang
a. Marga Buay Bulan
b. Marga Buay Tegamoan
c. Marga Buay Suay Umpu
d. Marga Buay Aji

PERANG DENGAN SANG GARIHA TIYUH MEMON

Oleh:
Marwansyah Warganegara (TMII, Jakarta 1994)

Sewaktu keturunan Sakawira di Tiyuh Tegineneng Rantau Tijang mereka bertetangga dengan Tiyuh Memon keturunan Sang Gariha. Keturunan Sang Gariha selalu mengganggu dan meranpas hak milik orang Tiyuh Tegineneng Rantau Tijang, sehingga batas kesabaran orang Tegineneng meledak dengan peperangan menindas orang Tiyuh Memon. Orang Tiyuh Tegineneng ketutunan Buay Bulan dibantu oleh orang Abung dan Pubian Telu Suku. Peperangan ini mengakibatkan orang Tiyuh Memon sebagian besar terbunuh dan Tiyuh Tegineneng Rantau Tinjang habis terbakar. Sebenarnya Sang Gariha ini keturunan Buay Bulan yang menjadi hulubalang Poyang Sakti lagi di Skala Brak.

Rasa dendam penduduk Tegineneng Rantau Tijang dengan Sang Gariha berasal dari terbunuhnya Sakawira akibat ulah Sang Gariha yang merasa iri dengan kepatuhan orang Tiyuh Tegineneng terhadap Sakawira, sehingga sebagian penduduk Tiyuh Memon banyak yang menyatakan patuh dan setia kepada Sakawira.

Secara diam-diam Sang Gariha membuat rencana untuk menyingkirkan Sakawira yang masih hubungan sepupu dan masih bujangan.

Sang Gariha menawarkan jasa baik untuk mengawinkan Sakawira dengan serang gadis cantik bernama Samba Helau berasal dari Tiyuh Mulang Maya Buay Turgak Kota Agung. Perkawinan ini adalah direncanakan oleh Sang Gariha untuk mengetahui kelemahan Sakawira dengan memperalat Samba Helau yang masih sepupu Sang Gariha. Dari perkswinan ini lahirlah Minak Sebalo Kunto dan Puteri Sumanik.

Setelah diketahui kelemahan Sakawira oleh Samba Helau secara diam-diam diceritakan kepada Sang Gariha Tiyuh Memon. Pada suatu hari digalilah sebuah lubang didekat Way Mincang didalam diberi getah kerbing dan diatasnya ditutup dengan dedaunan dan rumput serta disediakan rumput sipulut lidi. Setelah rencana diatur secara matang pada suatu pagi Sakawira dan Samba Helau pergi ke huma. Sang Gariha telah siap bersembunyi dibalik pepohonan dekat lobang perangkap. Ketika Sakawira didekat lobang tersebut lalu Sang Gariha meloncat dan mendorong Sakawira kedepan sehingga terjatuh kedalam lobang perangkap.

Sakawira menjerit lalu dikepung oleh anak buah Sang Gariha dan oleh Sang Gariha dubur Sakawira ditusuk dengan rumput sipulut lidi sampai meninggal. Sakawira lalu dikuburkan di Tiyuh Memon tepat di Galah Tanoh. Kematian Sakawira didengar olehadiknya Singecang Yang berada di Tiyuh Terbang Tegineneng Way Sekampung. Singecang lalu menyusul kakak iparnya Samba Helau dan kedua orang kemenakannya beserta penduduk Tegineneng Rantau Tijang yang selamat dibawa pindah ke Tegineneng Way Sekampung. Ketika Singecang mandi di Way Sekampung tiba-tiba ikan yang mengikuti aliran Way Sekampung mati yang mengakibatkan Singecang agak heran, lalu diam-diam diselidikinya ternyata bagian hulu ada seorang yang sedang mandi. Setelah jumpa ternyata orang tersebut bernama Minak Kuasa keturunan PoyangSejadi asal dari pihak nenek Singecang.

Di Tegineneng inilah Minak Singecang atas perintah Minak Trio Diso dan Minak Kuasa menikah dengan Semba Helaw meneruskan keturunan Minak Sakawira (kawin tegak tegi) dari perkawinan ini lahirlah Minak Ratu Di Bumi keturunan Tiyuh Tegineneng sukuLingai. Setelah Minak Ratu Di Bumi besar barulah Minak Singecang kawin dengan Rarang anakMinak Puhawang keturunan Ratu Di Pugung Hulu Way Sekampung. Dari perkawinan ini lahirlah :
1. Minak Rio Sakti
2. Puteri Linggang

Minak Rio Sakti mempunyai anak :
1. Minak Rajo Dunio Tiyuh Gunung Besar
2. Minak Brajngesiso Tiyuh Kibang Pagar Dewa

Setelah beberapa generasi keturunan Sakawira dan Singecang pindah dari Tegineneng Way Sekampung menyelusuri Way Rarem terus ke Way Tualang Bawang. Keturunan Sakawira dibawah pimpinan Minak Sebalo Kunto dan Minak Rio Bacaw berhenti di Wat Rarem mendirikan kampung Bujung Menggalou dan laim-lain. Sedangkan ,keturunan Minak Singecang di bawah pimpinan Minak Ratu Di Bumi mendirikan kampung Lingai Tuho seberang Bujung Menggalou. Minak Rajo Dunio mendirikan kampung Gunung Besar dan Mnak Brajongesiso menetp di Kibang Pagar Dewa. Dalam perjalan mereka mengikuti aliran Way ulang Bawang sesampai di persimpangan Way Kanan dan Way Kiri mereka jumpa dengan Buay Runjung Jurai Tegamon di kampung Pagar Dewa yang lebih terdahulu disana.

Diceritakan bahwa poyang Naga Barisang waktu di Cinggiring Skala Brak kawin dengan Puteri Dayang Metika anak Poyang Kuasa Buay Semenguk lahir dua orang anak yaitu :
1. Poyang Junjungan Sakti – Buku Jadi
2. Puteri Indra Bulan

Puteri Indra Bulan kawin dengan Raja Sangara anak Raja Dewata Siliwangi. Oleh Ratu Di Puncak dirayakan di Bukit Pesagi dan oleh Ratu Di Puncak, Raja sangara di beri Gelar Kun Tunggal dan puteri Indra Bulan diberi gelar Puteri Indrawaty,. Darai perkawinan ini lahirlah :
1. Puteri Bulan Purnama
2. Poyang Naga Barisang
3. Puteri Bulan Bara

Poyang Naga Barisang nama kecilnya mandala Bulan. Semanjak kecil mereka bertiga saudara tidak pernah ikut orang tuanya Raja Sangara di Pakungwaty tetapi ikut Ratu Di Puncak. Setelah Ratu Di Puncak meninggal mereka bertiga dengan ibunya Putri Indra Bulan selalu dalam pengawasan Nunyai sampai mereka dewasa baru dilepaskan, hal in karena wasiat Ratu Di Puncak yang begitu sayang terhadap Putri Bulan dan aaknya.

Putri Bulan Prnama kawin dengan Empu Runjung anak dari Sang Bali Kuang. Sebelumnya Empu Runjung telah menikah dengan Putri Nuban anak Ratu Di Puncak. Stelah menikah dengan Putri Bulan Purnama Empu Runjung bergelar Minak Tabo gayou dan keturunannya menetap di Tiyuh Pagar Dewa Tulang Bawang. Sedangkan Putri Bulan Bara kawin dengan Empu Pemuka dan menuunkan :
1. Empu Menyata
2. Empu Turgak

Keturunan ini menetap di Luas Lampung Barat dan Kota Agung Lampung Selatan.

Pada tahun 1552 Maulana Hasanuddin memimpin pemerintahan Islam di banten. Berita kemajuan Islam di Banten sampai kepada kepala adapt/ penyimbang dari masyarakat Lampung. Hal ini menarik perhatian keluarga-keluarga Lampung terutama bagi mereka yang telah mnganut agama Islam aliran Syiah yang mereka warisi dari nenek moyang mereka di Skala Brak yang berasal dari Samudera Pasai Via Pagaruyung.

Mereka melakukan seba untuk memperdalam ajaran Islam dengan membawa hasil bumi seprti lada. Hal ini berarti mengakui kekusaan Banten walaupun pemerintahan dalam daerah diatur sendiri secara adat.

Para utusan yang ke Banten diakui oleh Sultan sebagai kepala adapt masing-masing kebudayaan. Oleh Sultan pengakuan ini dicantumkan dalam lembaga resmi kesultanan (Book Dalung) dan diberi gelar Pangeran.

Untuk dakwah agama Islam Sultan mengutus keluarga kesultanan yang pandai agama disamping melaksananak pembelian lada. Untuk jual beli lada dipusatkan di Menggala. Sebagai bandara penjualan lada Menggala menjadi ramai dikunjungi orang terutama pedagang seperti orang Portugis, Belanda, Cina, Arab, Persia disamping orang Riau, Johor, Bugis, palembang dan Banten.

Tahun 1570 di zaman Maulana Yusuf Banten memerintahkan rakyat Lampung sebagai berikut :

Bagi orang laki-laki yangsudah berkeluarga diharuskan menanam lada sebanyak 1000 pohon yang masih bujangan 500. hasilnya harus dijual kepada Banten. Untuk ini Sultan Maulana Yusuf mengankat Jenjem pertama di Lampung sebagai wakil Sultan Banten dalam perdagangan hasil bumi terutama lada. Disamping itu juga diperjual belikan hasil hutan seperti Damar., Rotan dan lain-lain. Jenjem pertama kali diangkat ialah :

I. Denten Teladas Tulang Bawang :
1. Ki Ngabehi Jaga Pati
2. Ki Ngabehi Jagantaka

II. Semangka :
1. Pangeran Purbanegara
2. Depati Rayanegara

III. Way Seputih :
1. Ki Arya Cendrasana
2. Depati Suralaga di Pened

IV. Pesisir :
1. Ki Arya Wiraraja
2. Depati Natanegara

Keadaan di sepanjang Tulang Bawang lebih-lebih di muara Tulang Bawang tidak sama karena banyak bajak laut dan perampok. Bajak Laut dari Riau sangat terkenal dengan pemimpinnya yang disebut Raja Dilawok dimana mereka mendirikan perkampungan di daerah penawar dekat Gedong Aji, sedangkanorang Bugis dipimpin oleh Daeng Raja.

Sungai Tulang Bawang pada waktu itu menjadi ajang pertempuran antara orang Buay Tegamoan, Buay Bulan, Buay Aji dengan Bajak Laut dari negeri Cina, Lingga dan Bugis. Yang lebih menyedihkan sebagian dari penduduk Gedong Aji, Gedong Meneng, Gunung Tapa, Gunung Besar, Mecaksa dan Teladas habis terbunuh oleh Bajak Laut.

Rakyat Tualang Bawang mendapat bantuan dari armada Ibnu Iskandar dari Minangkabau dan berakhir dapat dihancurkan oleh Bajak Laut Cina. Banyak pemimpin dari Buay Tegamoann Aji dan Bulan tebunuh oleh bajak laut seperti Minak Rio Sakti dari Buay Bulan Tiyuh Kibang, Minak Rio Besano dari Buay Aji Tiyuh Kota Karang. Minak Rio Sakti di makamkan di Kibang Tebing Suluh dekat Pagar Dewa kemudian disusul oleh armada dari Sultan Malaka dibawh pimpinan anak Sultan Malaka sendiri bernama Pangeran Mnsyursyah yang lebih dikenal Datuk Raja Malaka. Mereka baru dating dari sungai Musi membantu peperangan orang Kayu Agung Komering Ilir melawan bajak laut. Seusai perang dengan bajak laut di Tulang Bawang, datuk Raja Malaka menikah dengan puteri Anom keturunan Tuan Rio Mangkubumi Tuho Pagar Dewa atas persetujuan Sultan Malaka Setole.

Tak lama kemudian daerah Tulang Bawang menjadi prebutan antara Sultan Banten dan Sultan Palembang. Sedangkan rakyat Lampung sebagian besar mengakui kesultanan Banten terkecuali orang-orang sekitar daerah Way Komering mengakui kesultanan Palembang.

Pada tahun 1596 – 1608 terjadilah peperangan antara Banten dan Palembang. Banten menbdapat bantuan dari Tulang Bawang dibawah pimpinan Minak Rio Mangkubumi Pagar Dewa Tuho Buay Tegamoan. Peperangan ii diakhiri terbunuhnya Maulana Muhammad Banten dan Minak Rio Mangkubumi di Palembang.

Tahun 1682 oleh Sultan Haji kedudukan Jenjem di Teladas dipindahkan sementara di Pagar Dewa. Tahun 1684 seluruh penyimbang marga Lampung melakukan perdagangan dengan V.O.C di Bandar Menggala Way Tulang Bawang. Perdagangan langsung leh V.O.C akibat yulah Ratu Fatimah isteri Sultan Banten yang ikut campur dala pemerintahan dalam kesultanan Banten. Untuk mengawasi jual beli hasil bumi di Menggala V.O.C mendrikan Loji dan meresmikan Bandar Menggala sebagai pusat jual beli hasil bumi di Tulang Bawang. Padahal sejak zaman Sultan Maulana Hasanudin tahun 1555 jual beli hasil bumi dilakukan disepanjang Way Tulang Bawang melalui Tanggo Rajo setiap kampung sebagai Bandar kecil milik setiap penyimbang di dalam tiyuh-tiyuh sepanjang Way Tulang Bawang. Barulah pada tahun 1684 V.O.C meresmikan Bandar Menggala serta Loji guna kepentingan V.O.C.

Tahun 1668 V.O.C mendirikan benteng Petrus Albertus di Menggala tepatnya di kampung ujung Gunung Menggala, tetapi tidak berumur lama benteng tersebut dapat di hancurkan oleh rakyat Menggala.

Tahun 1662-1706 pertikaian antara Palembang dan Banten hamper meletus lagi, hal ini disebabkan beberapa kerabat dari Abung dan Tulang BAwang menghadap Raden Aria Putera Sultan Palembang agar ikut terlibat persoalan mengenai daerah Tulang Bawang, yang mengakibatkan pada tahun 1734 Tulang Bawang serta Bandar Menggala jatuh ketangan Palembang. Untuk memperkuat pertahanan V.O.C membangun kembali benteng Petrus Albertus Muda di Menggala.

Akibat Bandar Menggala dan Daerah Tulang Bawang dapat dikuasai oloeh Sultan Palembang., secara diam-diam Sultan Abdul Fathi Muhammad Syifai Zainal arifin Banten memperkuat armada perangnya untuk merebut kembali Tulang Bawang.

Armada Perang Banten dan Palembang tahun 1773 berhantam kembali di sungai Tulang Bawang dan diamankan V.O.C dibawah pimpinan Reiner De Klerk. Akibat dari kericuhan ini pada trahun 1738Penyimbang Abung menboikot V.O.C dan melakukan pemasaran lada ke Palembang melalui Way Komering, akibatnya V.O.C mendirikan benteng VALKEN OOG di Kerbang Bumi Agung way Kanan.

Pada waktu pemerintahan Belanda berkuasa terjadilah sengketa antara Terbanggi Balak dengan Buay Bulan Ilir di Menggala. Tahun 1856 seorang pemuka adat dari Terbanggi Balak diinstruksi oleh penguasa Militer belanda (Militaire Gezag hebber ) mengumpulkan pemuka adat dari Abung Siwo Migo, Pubian Telu Suku, Way Kanan dan Tulang Bawang, masing-masing harus membawa silsilah kebudayaan masing-masing dan surat-surat peninggalan yang berharga.setelah kumpul di Terbanggi Balak di rumah VAN DELMAN ternyata utusan dari Tulang Bawang terutama dari marga Buay Bulan dan Tegamoan tidak hadir, yang hadir Cuma MInak Geti wakil dari Suay Umpu, yang menimbulkan ketegangan antara kedua belah pihak dan mengakibatkan terbunuhnya Minak Geti di Terbanggi Balak akibat tembakan dari serdadu Belanda.

Pemerintah Belanda di Terbanggi Balak pada waktu itu sebagai pusat pemerintahan menghakimi perselisihan dan pembunuhan tersebut. Penembak Minak Geti adalah opsir Belanda keturunan Bugis disingkirkan ke Batavia dan Buay Bulan dikucilkan dari Abung Siwo Migo. Keputusan Belanda ini banyak di tentang perwatin terutma dari Buay Nunyai, Buay Nuban, Buaqy Subing, dari kampung Mataram Tuho.

Kejadian tersebut diatas menimbulkan kerenggangan antara Buay Subing dan Buay Bulan dan Buay Suay Umpu. Sementara itu Buay Nyerupa Way Seputih yang datang Sukaw pada zaman si Gajoh Dalam Pikulun Ratu dibawah Si Lamat dengan anak buahnya sebanyak 18 orang mendirikan kampung dalam lingkungan daerah Seputih Bandar Pak terutama Buay Subing dan Unyi dan masuk kedalam lingkungan adapt Seputih Bandar Pak.

Pada tahun 1930 sewaktu DR. J.W VAN ROYEN selaku Controleur Residentil Lampungsche Districten dengan Resident F.Y Yunius yang berkedudiukan di Teluk Betung mengumpulkan seluruh penyimbang Adat dan Pasirah dari Abung, Pubian Way Kanan, Sungkai dan Tulang Bawang di Sesat Gunung Sugih Way Seputih dalam rangka mencatat marga-marga di Lampung. Pada waktu itu terjadilah kesimpang siuran tentang urutan Abung Siwo Migo. Dari pihak Marga Buay Nunyai diwakili H. Murad Bumi Kul Paseban Kota Bumi dengan tegas menyatakan Buay Bulan yang duduk di Abung Suay Migo sejak di Canguk Gaccak. Keterangan H. Murad Bumi Kul ini didkung oleh penyimbang dari kampung Bumi Jawa, Gedung Dalem Buay Nuban, Matarm Tuho Buay Subing, Buyut dan Sukadana Buay Unyi, Aji Kagungan Buay KUnang dan Gedong Wani Buay Selagai. Kemudian seorang pemuka dari kampung Terbanggi Balak Buay Subing mengatakan bahwa Buay Nyerupa Komering Seputih itulah yang duduk dalam Abung Siwo Migo dengan alasan sudah dua generasi sampai kedia pengejengan Buay Bulan sudah diduduki oleh Buay Nyerupa.

Dari pihak Tulang Bawang yang diwakili empat Pasirah yang hadir pada waktu itu tidak mempersoalkannya, sebab semenjak tahun 1856 Buay Bulan dikucilkan dan selalu absent jika ada gawi Abung Siwo Migo. Pengejengan Buay Bulan sering diisi oleh Buay Nyerupa dan Buay Nuwat. Buay Bulan sendiri bergabung dengan Buay Tegamoan Suay Umpu dalam adat Sumbay Tulang Bawang dan terakhir tahun 1911 Buay Aji bergabung dam membentuk Mego Pak Tulang Bawang dengan urutan sebagai berikut :

1. Marga Buay Bulan
2. Marga Buay Tegamoan
3. Marga Buay Suay Umpu
4. Marga Buay Aji

Marga Pak Tulang Bawang diakui oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1914. Kejadian ini yang menybabkan anggapan seolah-olah Buay Bulan bukan unsur pembentukan aAbung Siwo Migo pertama kali, padahal sudah berpuluh generasi Buay Bulan duduk dalam Abung Siwo Migo sejak Canguk Gaccak.

ASAL USUL SUKU LAMPUNG

Oleh:
Marwansyah Warganegara
(TMII, Jakarta-1994)

Zaman dahulu kala ada sekelompok suku bangsa bertempat tingal di sungai Tatang dekat Bukit Siguntang Sumatera Selatan.
Merka dibawah pimpinan sebagai berikut :
1. Lebar Daun
2. Anak Dalam
3. Serang
4. Naga Barisang
5. Dayang
6. Rakihan

Diantara mereka berenam tersebut, yang tiga pergi mengembara untuk mencari penghidupan. Ketiga orang tersebut adalah :
1. Anak Dalam
2. Naga Barisang
3. Dayang

Pertama kali mereka bertiga bertempat tinggal di pinggir sungai Batang hari, lalu anak Dalam ke Bengkulu, Naga Barisang ke Danau Ranau sedangkan keturunan Dayang kedaerah Pasemah. Keturunan Anak Dalam lalu pergi menyusul keturunan Naga Barisang yang lebih dahulu berada di Danau Ranau dan terakhir menyusul keturunan Dayang.

Di daerah Ranau ini mereka mengadakan musyawarah untuk mengatasi kesulitan yang di hadapi. Mereka melakukan baercocok tanam dan menangkap ikan. Selang beberapa lama dating menyusul anak cucu Rakihan kedaerah Ranau. Perselisihan selalu terjadi antara anak buah mereka, lalu diambil keputusan bersama sebagai berikut :

I. Pembagian daerah berdasarkan keturunan masing-masing harus mempunyai tanda :
1. Cabang kayu sebelah bawah sekali dipotong adlah tanda hak milik anak cucu Talang Tunggal Peteting Anak Aji.
2. Cabang kayu nomor dua dari bawah dipotong adalah tanda hak milik anakcucu Ruh Tunggal dan Jagad Hyang Prabu.
3. Apabila dibawah pohon kayu itu ada unggukan batu adalah tanda hak milik anak cucu Naga Barisang.
4. Apabila kayu itu diikat batangnya denagan rotan adalah tanda hak milik anak cucu Sigeriyang.
II. Antara maereka tidak diperbolehkan membuat keributan sehingga berkelahi. Jika ytaerjadi perkelahian akan dihukum dan diusir keluar kampong.
III. Perkawinan harus melalui musyawarah dengan kedua orang tua masing-masing. Tidak diperbolehkan kawin dengan saudara kandung dan sepupu.
IV. Suami tidak boleh memukul isteri sampai cidera / mati.


Dari daerah Ranau ini keturunan Naga Barisang dibawah pimpinan Poyang Sakti pindah ke Cinggiring Skala Brak. Poyang Sakti sewaktu pindah dari Ranau masih berusia remaja, sedangkan kedua orang tuanya Poyang Naga Jaya sudah tua dan dalam keadaan sakit.

Di Skala Brak Poyang Sakti berjumpa dengan Poyang Serata Di Langik dan Poyang Kuasa. Rombongan Poyang Sakti sebagian menetap di tiyuh Canggu dengan pimpinan Poyang Sai Jadi Saktiyang lain menuju cinggiring dibawah pimpinan Poyang Sakti. Sewaktu perjalanan menuju ke Cinggiring disekitar tiyuh Batu Brak, Poyang Sakti berjumpa dengan Poyang Pandak Sakti yang dating dari daerah Muara Dua. Mereka berempat sepakat membentuk persekutuan “Paksi Pak Tukket Pedang” yang terdiri dari :

1. Poyang Sakti (Buay Balam)
2. Ppoyang Kuasa Buay Semenguk)
3. Poyang Serata Di Langik (Buay Nuwat)
4. Poyang Pandak Sakti (Suku Pak Ngepuluh Buay Aji)

Maksud mereka mendirikan persekutuan ini adlah untuk menjaga keamanan disekitar Skala Brak karena selalu terancam dari perampokan yang dating arah Pesisir dan Palembang. Perampok ini berasal dari Negeri Cina yang merajalela dipedalaman Sumatera, yang dikepalai oleh Leang Tao Ming dan dapat ditangkap Laksamana Cheng Ho pada tahun 1407 atas perintah Kaisar Yung Lo.

Poyang Sakti Menikah dengan Dayang Metika, Anak Poyang Kuasa Buay Semenguk. Dari perkawinan ini lahirlah :

1. Poyang Junjungan Sakti
2. Puteri Indera Bulan

Puteri Indera Bulan setelah remaja sangat camtik dan tangkas. Suasana hidup ketika itu sangat keras akibat perampokan terjadi di mana-mana, sehingga membentuk watak dan pribadi Puteri Bulan menjadi keras. Dia belajar ilmu bela diri dan pandai main senjata tajam.

Setelah itu datanglah rombongan tiga orang Empu secara berturut-turut yang berasal dari Pagaruyung Laras Bodi Chaniago. Mereka masing-masing :

1. Empu Cangih yang kelak bergelar RAtu Di Puncak
2. empu Serunting yang kelak bergelar Ratu Di Pugung
3. empu Rakihan yang kelak bergelar Ratu Di Belalaw

Mereka meninggalkan Pagaruyung tahun 1347 akibat pertentangan antara Datuk Ketemanggungan dengan Datuk Parpatih Nan Sabatang sewaktu pemerintahan Adityawarman mantan mahamenteri Majapahit. Datuk Perpatih Nan Sabatang memerintah scara adat di minangkabau yang bersifat disentralisasi dan demokratis yang sudah dipengaruhi Ajaran Islam, sedangkan datuk ketemanggungan system sentralisasi dan otokratis, sehingga tidak dapat berkembang dan brtolak belakang dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang.
Ketiga orang Empu ini adalah keluargan dari Parpatih Nan Sabatang yang berasal dari Laras Bodi Chaniago yang meninggalkan Pagaruyung menuju Bengkulu dan menetap didaerah perkebunan lada di Ranau.

Akibat bencana alam dan letusan gunung api mereka terpaksa pindah kearah selatan sampai di Bukit Pesagi Skala Brak. Kedatangan mereka ini sekaligus menyebarkan agama Islam kepada penduduk Skala Brak Yang beragama Animisme dan Hindhu Bhairawa dan mereka tahun 1350 muari dengan Puteri Bulan di Cinggiring lalu meneruskan perjalan ke Bukit Pesagi.

Sesampai mereka di Bukit Pesagi terlebih dahulu mereka ngedudu (memanggil) dengan menanyakan apakah ada orang disana. Maka di jawab dengan jawaban “Wat” yang berarti ada. Lalu mereka menuju kearah suara dan berjumpa dengan seorang yang bernama Poyang Serata Di Langik. Poyang Serata Di Langik yang menurunkan Buay Nuwat. Nuwat berasal dari kata ”Meno Wat” berarti lebijh dulu berada disana. Tidak lama kemudian datanglah orang yang mengaku berasal dari Segara Baka Kahiyangan bernama Poyang Aji Saka. Terlebih dahulu diadaka uji coba kekuatan dengan Poyang Sakti ternyata tidak ada yang kalah dan menang. Poyang Aji Saka dan Poyang Sakti berpadu (berunding) ternyata mereka masih satu keturunan dari sungai Tatang Bukit Siguntang.

Kemudian mereka disusul Poyang Makuda, Poyang Mapuga, Sang Gariha dan terakhir disusul Poyang Lunik beserta pengikutnya Sai kundang, Sai Badak, Sai Jalang, Sai Nima dan Pakku.

Selanjutnya beberapa waktu kemudian empat orang Empu yaitu Empu Cangih, Empu Serunting Empu RAkihan dan Empu Aji Saka berjumpa dengan sekelompok orang yang mereka anggap aneh karena cara penghidupan mereka sangat berbeda. Sekelompok orang ini mereka sebut orang Tumi. Karena mereka memakan buah durian hutan yang dalam bahasa Lampung disebut Tumi. Suku Tumi ini bertempat tinggal didaerah luas. Mereka menyambah sebatang pohon nangka yang bercabang dua yang disebut “Lemaaa Kepampang”. Cabang yang satu terdiri dari pohon nangka dan satunya lagi pohon sepukaw. Kaneham pohon nangka ini akarnya tumbuh keatas dan puncak nya kebawah. Getahnya sangat beracun dan hanya dapat sembuh dengan getah Sepukaw. Pada saat tertentu mereka mempersembahkan korban kepala manusia hasil dari mengayaw warga kampung lain untuk dipersembahkan pada pohon Melasa Kepampang.

Pimpinan suku Tumi seorang wanita yang bernama Puteri Sekar Mong. Setelah hal ini diketahui oleh empat orang Empu lalu mereka berunding dan mereka berunding untuk menaklukan suku Tumi serta meng-islamkan mereka. Tugas ini dibebankan kepada tujuh orang :

1. Poyang Kuasa
2. Poyang Pulagai
3. Sanbg Balik Kuang
4. Sang Gariha
5. Poyang Makuda
6. Poyang Mapuda
7. Poyang Nyurang

Mereka bertugas menaklukan orang Tumi. Puteri Sekar Mong dan Anaknya bernama Puteri Sindi dapat ditawan, sedangkan orang Tumi yang selamat melarikan diri mengikuti aliran Way Semangka lalu bersembunyi disekitar Gunung Tanggamus.

Pohon Lemasa Kepampang mereka tbang lalu dibawa ke Ranji Pasai dekat Kenali sekarang. Kayu Lemasa Kepampang dijadikan simbul kesatuan dan persatuan serta kesepakatan dan kebulatan kata dalam pergaulan. Benda ini disebut”Pepadun” yang berasal dari kata perpaduan. Bentuk bulatnya setinggi lutut dan cabangnya menjadi sandaran. Pepadun Lemasa Kepampang ini menjadi milik bersama oleh empat orang Empu di Skala Brak.

Dari daerah luas mereka menuju Ranji Pasai terus menyelusuri dataran tinggi Belalaw sampai di Chinggiring, mereka berjumpa dengan sekelompok orang dibawah pimpinan Puteri Indra Bulan. Oleh Empu Rakihan diadakan uji coba kekuatan ternyata tidak ada yang kalah dan menang. Empu Canggih lalu mengangkat Puteri Indra Bulan menjadi anak, karena Empu Canggih hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Puteri Nuban yang bergelar Menak Mupun. Empu Canggih beristri tiga orang :

1. Puteri Laut Lebu lahir Puteri Nuban
2. Puteri Ranaw lahir Nunyai dan Unyi
3. Puteri Pagaruyung lahir Betanyang lebih dikenal dengan nama Subing.

Setelah daerah Skala Brak aman keempat Empu pergi ke bukit Pesagi lalu mengadakan perundingan dimana tempat masing-masing Empu dan keluarganya memilih tempat tinggal. Masing-masing Empu beritindak sebagai kepla Rombongan yang dipatuhi dan dihormati. Tempat tinggal mereka dikelilingi oleh pagar bamboo betung atau galih kayu yang disebut keratun. Keratun tersebut ialah :

1. Empu Canggih bergelar Ratu Di Puncak mengambil tempat di puncak bukit pesagi.
2. Empu Serunting Bergelar Ratu Di Pugung mengambil tempat di punbggung Bukit Peasagi.
3. Empu Rakihan bergelar Ratu Di Belalaw mengambil tempat di tengkuk Bukit Pesagi.
4. Empu Aji Saka bergelar Ratu Di Pemanggilan mengambil tempat di bawah Bukit Pesagi.

Diketahui di Skala Brak tumbuh sebuah pohon kayu Hara yang sangat besar dan tinggi. Penduduk sangat takut karena di atas pohon tersebut hidup sepasang burung garuda yang sangat ganas. Banyak orang yang mati akibat serangan Burung tersebut yang mengakibatkan rakyat di sekitar pohon itu menjadi takut atas serangan burung garuda ganas itu. Oleh keempat orang Empu sepakat untuk menebang kayu Hara. Tugas ini diserahkan kepada sembilan orang dengan pimpinan Poyang Lunik. Kesembilan orang tersebut adalah :

1. Poyang Lunik
2. Si Sangkan
3. Si Pandan
4. Si Kandang
5. Si Jalang
6. Si Badak
7. Si Midin
8. Si Nima
9. Si Pakku

Kayu Hara itu berhasil mereka tumbangkan dan garuda yang ganas dapat di usir. Akan tetapi meminta korban sebanyak tujuh orang dan yang selamat hanya Poyang Lunik dan Si Sangkan. Menurut cerita orang kayu hara tersebut setelah rubuh pangkalnya di Skala Brak dan ujungnya sampai di Teluk Semangka. Galih kayu hara diambil oleh empat orang Empu dan dijadikan kekuhan (kentongan) .

Untuk mengenang jasa mereka yang telah berhasil menebang kayu hara maka diabadikan bentuk kayu hara dan tancapkan ditengah lunjuk Pancah Aji. Bentuk tiruan kayu hara ini bercabang empat dan bertingkat sembilan. Disudut empat Lunjuk pancah aji didirikan juga tiruan kayu hara yang lebih pendekbercabang empat bertinkattujuh yang disebut pejaraw. Empat pejaraw melambangkan Empat keratuan. Empat cabang melambangkan empat paksi Tukket Padang, tujuh tingkat melambangkan tjujuh orang yang meninggal, sedangkan sembilan tingkat melambangkan sembilan orang pahlawan yang bertugas menebang kayu hara.

Lunjak Pancah Aji adalah tempat pelaksanaan perkawinan secara adat, dimana kedua mempelai duduk tindih silou serta menginjak kepala kerbau.

Kehidupan di Skala Brak terasa aman dan damai. Keadaan ini tidak berjalan lama. Perampokan terjadi dimana-mana terutama perampok cina yang merajalela diperairan selat malaka, pantai pesisir Sumatera, lalu memasuki sungai Musi terus ke Palembang dan menyebar ke daerah Ranau sampai ke Skala Brak.

Dikarenakan sering terjadi perampokan secara besar-besaran, disamping pertumbuhan penduduk semakin banyak dan perlu daerah pemukiman yang lebih luas. Untuk itu mereka mengadakan perundinngan untuk melakukan perpindahan denagn menyebar. Kesepakatan itu diwujudkan dengan sumpah dan memotong siamang putih yang dibuat bekasam dan disimpan dalam gentong. Gentong ini dapat dibuka kembali apabila keturunan empat keratuan ini dapat bersatu kembali di Skala Brak. Didalam perjanjian itu juga ditetapkan hak kekuasan adapt berada di tangan Ratu Di Puncak dan keturunananya, sedangkan puska lainnya seperti pepadun Lemasa Kepampang kekuhan dan lain-lain tetap dipegang ratu Di Belalaw dan keturunannya.

Ratu Di Puncak, Ratu Di Pugung dan Ratu Di Pemangglan pindahmencari daerah yang baru dimana perpindahan tersebut terjadi dua arah melalui jalur Raau dan kearah Martapuramengikuti aliran Way Komering dan melalui pantai Pesisir. Rau Di Puncak pindah ke daerah Selabung kemudian Pindah lagi ke hulu way Abung yaitu di Canguk Gaccak. Empu Pandak Sakti dan beberapa orang Jurai Ajimenempati sepanjang Way Komering.Empu Kuasa, Sang Balik Kuang, Empu Pemuka menempati Way Pisang, Way Kanan dan Way Besai. Keturunan Empu Serata Di Langik dan pak Lang Jurai Ratru Di Pugung menempati Mnempati daerah di Way Besai hinggga Way sekampung, Poyang Lunik dan sangkan sampai Way Handak sedangkan Sangkan pinadah lagi ke muara Way Sekampung.

Keturunan Ratu Di Pemanggilan sebagian di daerah Way Rarem dan beberapa Jurai menempati daerah antaraWay Seputih. Sedangkan keturunan Puteri Bulan menempati daerah Way Semangka hingga way Sekamapung lalau pindah lagi ke Way Tulang Bawang. Ketururnan Ratau Di Belalaw tetap tinggal dei Skala Brak dan terakhir sebagian pindah ke daerah Ranau dan Daerah Kota Agung yang kemudian mendirikan persekutuan adapt “Paksi Pak Skala Brak”.

Diceritakan bahwa Empu Rakihan yang bergelar Minak Rio Belunguh menikah dengan Puteri Bulan Bara Jurai dari Puteri Indra Bulan bertempat tinggal di luas, dari perkawinan inilahirlah :

1. Empu Menyata
2. Empu Turgak

Didalam perjanjian bahwa Buay Menyata dan Buay Turgak tidak ikut clan Empu Rakihan, tetapi ikut dalam clan ibunya yaitu Jurai Puteri Indra Bulan. Kemudian Empu Rakihan Kawin dengan Puteri Sindi anak dari Puteri Sekarmong dan menetap di Ranji Pasai dekat Kenali. Dari perkawinan ini lahirlah :

1. Empu Belunguh
2. Empu Nyerupa
3. Empu Parenong
4. Empu bejalan Di Way

Tetapi menurut keterangan pangeran Syafei Kenali, Empu Parenong dan Empu Bejalan Di Wai berasal dari Darmas Raya. Jadi empat Empu inilah merupakan cikal bakal Paksi Pak Skala Brak. Sewaktu mendirikan Paksi Pak ini dihadiri utusan dari:

1. Buay Nunyai
2. Buay Unyi
3. Buay Subing
4. Buay Nuban
5. Buay Bulan
6. Buay Semenguk
7. Buay Nuwat
8. Buay Tumi
9. Buay Menyata
10. Buay Turgak
11. Buay Aji
12. Buay Sandang
13. Buay Rawan
14. Buay Runjung
15. Buay Pemuka

Kelima belas ke-buay-an ini ikut menghadiri pembentukan Paksi Pak di Skala Brak, dan diputuskan bahwa Buay Menyata diangkat menjadi ”Aanak tuha” yang dihormati sedangkan Puteri Indra Bulan diangkat menjadi “Anak Bai” (saudara perempuan) yang disayangi. Keturunan Purteri Indra Bulan pada waktu itu tidak berhak menjadi Paksi dan diputuskan oleh Perwatin Paksi Pak untuk memegang pusaka Ratu Pak yang dipegang oleh Ratu Belalawberupa Pepadun Lemasa Kepampang, Kekuhan, Sesam Siamang,putih dan lain-lain. Sewaktu itu setiap pengankatan seseoarang Paksi yang baru di Skala Brak harus naik pepadun Lemasa Kepampang yang dipinjam pada keturunan Puteri Indra Bulan di Cinggiring yang dikuasakan kepada Wayang Kemala.

Hubungan Paksi Pak Skala Brak dengan keturunan Puteri Indra Bulan sangat harmonis dan berjalan lancar, sehingga timbul istilah “Paksi Pak ke Lima Buay Nerima, Cumbung Pak, kelima Sia”. Yang dimaksud Buay Nerima adalah keturunan Puteri Indra Bulan di Cinggiring dan luas. Keharmonisan ini tidak bias berjalan lama, dikarenakan Paksi Buay Belunguh dan Paksi Buay Parenong ingin menguasai pusaka peninggalan Ratu Pak yang dipercayakan pada keturunan Puteri Indra Bulan, serta perselisihan prbatasan antara Paksi Pak dengan Buay Bulan. Hal ini mengakibatkan kerenggangan antara Paksi Pak dengan Buay Bulan baik yang berada di Cinggirig maupun di luas.

Kericuhan ini trdengar oleh Ratu Di Puncak yang berada di Canguk Gaccak, Ratu Di Puncak memerintahkan Minak Serappou. Minak Nyabak dan Minak Termindak dating ke Cinggiring untuk menengahi perselisihan.

Setelah sampai di Cinggiring diadakan perundingan di Bah Way antara Paksi Pak dengan Buay Bulan, Buay Menyata, Buay Turgak dan diambil Keputusan Buay Bulan dibawah pimpinan Nago Gayo gelar Minak Rio Sakti akan pindah menyusul Ratu Di Puncak di Canguk Gaccak. Sedangkan saudara Nago Gayo antara lain Nago Liu pidah kedaerah Melebui Balak/ Lunik, Puteri Linggang menikah dengan Minak Ngejengaw Tuha di Kembahang. Keturunan Minak Rio Sakti bernama Minak sakowiro dan Minak Sengencang Bumi sepakat untuk pindah mengikuti Way Semangka terus ke Pugung sebagian menetap di Way Sekampung.

Kepercayaan untuk memgang pusaka Ratu Pak yang semula di pegang oleh keturunan Buay Bulan lalu di serahkan kepada Buay Menyata di Luas. Sewaktu pembentukan adat Pasi Pak Skala Brak dalam rangka meresmikan pengangkatan Paksi yang baru tahun 1825 diman utusan dari Buay Bulan Semar Gelar Akkuan Batin Kepala Kampung Tegineneng kibang masih terlihat tata cara lama di Sukaw di dalam sesat ada pengejongan khusus untuk Buay Bulan, Buay Menyata, Buay Turgak dan Buay Aji dimana sekarang, setiap nayuh Balak yang dilakukan oleh Paksi Pak hal ini tidak tampak lagi.padahal jauh sebelum Penjajahan Belanda/Inggris dating hubungan Paksi Pak dan Paksi Kebuay-an berjalan lancar.

Sesampai Nago Gayo di Canguk Gaccak disana telah berada Buay Nunyai, Buay Unyi, Buay Subing, Buay Nuban, Buay Yuk keturunan Ratu Pemanggilan jurai Poyang Semenekaw rupanya Minak Rio Kunang telah lebih dulu di Hulu Way Rarem, dan Peteting Anak Aji keturunan Ratu Pemanggilan dari Jurai Poyang Rakihan yang bertempat tinggal di Ulok Tiga Ngawan. Peteting Anak aji kawin dengan anak petrempuan Nunyai yang paling tua betrnama Cani Gelar Minak Indeman dan terakhir sekali datang menyususl dan bergabung dengan mereka.

Di Canguk Gaccak inilah mereka sebanyak sembilan orang berkumpul. Kesembilan orang inilah sebagai cikal bakal abung Siwo Migo dengan urutan sebagai berikut :

1. Nunyai
2. Unyi
3. Subing
4. Nuban
5. Bulan
6. Beliuk
7. Selagai
8. Kunang
9. Anak Tuha

Dalam pertemuan Abung Siwo Migo pertama dengan keputusan bahwa delapan orang saudara Nunyai mendapat hak Ngujuk Ngekuk, tetapi belum dapatkan adapt kebumian. Hadir dalam pertemuan ini sebagai saksi adalah : Sumbai Tegemoan, Sumbai Pemuka, sumbai Bahuga dan Sumbai Semenguk.

Besarnya pengakuk mereka yang delapan baru 400, sedangkan nunyai tetap 600. Mereka yang menjadi saksi belum mendapat hak adapt dari sinilah lahirnya istilah ‘Abung Siwo Mingo’ dan ‘Pak Sumbai’.

Ketika diadakan Mecak Wirang di Gilas didaerah Way Besai dimana nunyai, Unyi, Subing dan Nuban merayakan kemenangan mereka dapat membunuh raja Di Lawok yang dihadiri oleh :

1. Suku Pubian tiga belas Jurai
2. Buay Tegamoan
3. Buay Pemuka
4. Buay Bahuga
5. Buay Semenguk
6. Buay Silamayang

Mecak Wirang di Gilas ini menetapkan pembagian adat dan harta warisan.

Peristiwa kejadian yang menimbulkan kerenggangan antara Abung Siwo Mego adalah peperangan antara orang Abung dan Pubiyan melawan Minak Indah kampung panarangan keturunan Mi nak Rio Sanak Buay Teagamoan. Minak Indah merasa sakti dan gagah berani. Dia mempunyai anak gadis, sebanyak tujuh orang. Sewaktu orang meminang anak gadisnya, Minak Indah memberi syarat harus menyerahkan emas seberat badan gadis itu lalu terjadilah peperangan sehingg a Minak Indah terbunuh oleh Minak Naga Ngumbang Hulubalang Minak Srappo Kiyo dari Terbangi dengan senjata Subang Gading, penuang dan Kayas Ibung Ngelamang batu milik Minak Paduka Buay Nunyai. Anak gadisnya berjumlah tujuh orang masing-masing diambil dari Kotabumi, Buyut, Surabaya, Mataram, Terbanggi, Bumi Aji dan Lingai. Satu menantunya diambil Minak naga Ngumbang. Perayaan untuk merayakan kemenangan ii berlangsung di Kotabumi Tua dipinggir Way Pangubuan.

Setelah itu keturunan Ratu Di Pugung yang berada di sekitar Way Pangubuan dan keturunan Ratu Di Penmggilan yang berada di Way Seputih membentuk adapt pubian Telu Suku. Keturunan Ratu Di Pugung bergabung dalam dua suku yaitu masyarakat dan Tambapupus dan keturunan Ratu Di Pemanggilan adalah suku Bukujadi, Pembentukan adapt Pubian Telu Suku ini dihadiri oleh utusan Abung Siwo Migo dan Sumbai dari Way Kanan. Ketiga suku itu adalah :

I. Suku Masyarakat
1. Buay Kediangan
2. Buay Manik
3. Buay Nyurang
4. Buay Gunung
5. Buay Kapal
6. Buay Selagai Jurai Rawan

II. Suku Tambapupus :
1. Buay Nuwat
2. Buay Pemuka Pati Pak Lang
3. Buay Pemuka Menang
4. Buay Semima
5. Buay Pemuka Halom Bawak
6. Buay Kuning

III. Suku Buku Jadi :
1. Buay Sejadi
2. Buay Sejaya
3. Buay Sebiyai
4. Buay Ranji
5. Buay Kaji
6. Buay Pukuk

Rabu, 11 Maret 2009

SEJARAH DOMPU DAN TULANG BAWANG

Oleh : HM.Agus Suryanto Wartawan Harian Lombok Dompu


Dalam lembaran sejarah di Dompu mencatat,sebelum terbentuknya kerajaan konon didaerah ini pernah berkuasa beberapa kepala suku yang disebut sebagai ‘’NCUHI’’ atau raja kecil para ncuhi tarsebut terdiri dari 4 orang yaitu:


Ncuhi Hu,u
yang mempunyai wilayah kekuasaan Hu,u dan sekitarnya(sekarang kecamtan Hu,u)


Ncuhi Saneo
yang mempunyai wilayah kekusaan daerah Saneo dan sekitanya(sekarang kecamatan Woja Dompu).


Ncuhi Nowa
Yang mempunyai wilayah kekusaan Nowa dan sekitarnya(sekarang masuk kecamatan Woja).


Ncuhi Tonda
yang mempunyai wilayah kekusaan Tonda dan sekitarnya dan saat ini masuk dalam wilayah Desa Riwo kecamatan


Woja Dompu.
Selain empat Orang Ncuhi yang terkenal di Dompu terdapat pula Ncuhi lainya seperti Ncuhi Tolo



Fo,o,Ncuhi Katua,Ncuhi
Dorongao,Ncuhi parapimpi dan Ncuhi Dungga.para ncuhi mengusai satu wilayah dengan penduduknya di beberapa bekas pemukiman lama atau perkampungan yang di kuasai oleh para Ncuhi dan sampai saat ini nama perkampungan itu masih melekat bahkan telah di abadikan menjadi salah satu nama Desa atau kecamatan di kabupaten Dompu. Beberapa perkampungan atau negeri yang pernah menjadi wilayah kekusaan para Ncuhi itu misalnya: negeri
Tonda,negeri Soro Bawah letaknya di Doro La Nggajah letaknya ditepi pantai teluk Cempi Huu.negeri bata letaknya di Doro bata kelurahan kandai satu ,negeri Tolo fo,o letaknya di sebelah utara Dusun Rababaka Desa Matau kecamatan Woja,negeri para sada sekarang merupakan lokasi persawahan So Mangge kalo di kampung Pelita kelurahan
Bada,negeri La Rade lokasi tersebut berada di areal pertanian so Jero ,negeri dungga terletak di sekitar Dam rabalaju,negeri Dorongao letaknya di kelurahan Kandai satu . Kerajaan Dompu merupakan hasil penyatuan atau bersatunya para Ncuhi yang ada diwilayah Dompu saat itu,sistim pemerintahan berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja(sangaji)disebutah susunan Raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan dompu yang pertama.


Dewa Sang Kula


Konon Raja ini berasal dari negeri tanah seberang tokoh ini datang ke Dompu melalui laut tepatnya di wilayah telauk Cempi Hu,u menggunakan perahu yang terbuat dari Bambu betung yang masih muda dan mendarat di pantai Ria di riwo Woja,selanjutnya Sang tokoh tersebut bermukim diwilayah Riwo.dan atas kesepakatan para Ncuhi yang ada di tanah
Dompu saat itu .lantas di angkat menjadi seorang raja pertama kali di dan dompu .


Dewa Tulang Bawang.


Tokoh ini oleh masyarakat Dompu berdasarkan tuturan dari para sesepuh bahwa,Dewa tulang bawang ini konon berasal dari negeri tulang bawang sumatra tepatnya di Bukit si Guntang dewa tulang bawang mengembara di negeri Dompu. dan menurut cerita rakyat Dompu tokoh ini,datang di Dompu menggunakan perahu dan terhempas gelombang dasyat
sehingga perahu yang ditumpanginya terdampar dan berubah menjadi sebongkah batu dan oleh masyarakat Dompu batu tersebut di kenal dengan istilah Wadu Lopi.Dewa tulang bawang kemudian menikah dengan seorang putri anak dari Sang Kula Indra kumala dan selanjutnya menjadi raja dompu yang kedua.


Dewa Indra Dompu.


Merupakan putra dari Dewa tulang Bawang


Dewa mambara bisu


adalah saudara dari dewa Indra Dompu.


Dewa Mambawa Balada.
Juga saudara kandung dari dewa indra Dompu.

Daftar Bibliografi Kuno Tentang Lampung

Dikompilasi oleh:

Drs. Bintang Wirawan

A. Th. van Ginkel, 1917, De Emigratie en kolonisatieproeven der Indische Regeering.

A.J. Koens, 1915, Over Kolonisatiepreven in de Residentie Benkoelen.

A.M. Djuliati Suroyo, 2000, Eksploitasi Kolonial Abad XIX, kerja wajib di Karesidenan Kedu Verslag van der Centraal.

Ahmad Dt.Batuah/A.Dt.Madjoindo, 1956. Tambo Minangkabau, Balai Pustaka, Djakarta,

Anonim, Afs. No. 4405/20, 10 October 1905

Anonim, Besluit no. 18 tanggal 31 Mei 1939

Anonim, Besluit no. 30 tanggal 29 Januari 1937

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1913

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1915

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1916

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1917

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1918

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1919

Bernet Kempers, A. J. 1959, Ancient Indonesian Art. Cambridge.

BHATTA,, J.N. , 1957, Soal2 transmigrasi di Indonesia (Istimewa Sumatra Selatan) / Regarding
International Migration in Indonesia (with special reference to S. Sumatra). Djakarta, Balai Geografi, Direktorat Topografi Angkatan Darat, Kementerian Pertahanan. [VIII], 64, 76 pp. + 25 (partly folding) maps and graphs. Monograph on transmigration in Indonesia, especially with regards to the migration of people from Java to South Sumatra since 1905. With many statistical data. Texts in Indonesian and English.

BROERSMA, DR. R. 1916, De Lampongsche Districten. Batavia, Javasche Boekhandel en Drukkerij. Illustrated with 24 b/w photo plates and a folding map.VIII, 325 pp. Orig. gilt-lettered brown cloth. Sm. 4to. A very good copy. Encyclopaedic work on the Lampung-district of South Sumatra investigating the possibilities of the economic development of the region together with extensive notes on the history, ethnography, geography, legal system, trade, agriculture, colonization by Javanese immigrants, railroad systems etc. of the area. (B).

BRUININK-DARLANG, CHRISTIEN, , 1993, Hervormingen in de koloniale periode. Verbeteringen in het Nederlands-Indisch strafstelsel in de periode 1905-1940. . Arnhem, Gouda Quint BV. Illustrated, maps. XVI, 425 pp.; bibliography; index. Sewn, orig. decorated wrs. Study on the penitentiary system and connected reforms in the Netherlands East Indies in the period from 1905 and 1940, Trade edition of a thesis. With a summary in English.

Burger, Prof. Dr. D.H, ,1957, terj. Prajudi Atmosudirdjo, Prof.Dr.Mr., Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, J.B. Wolters, Djakarta, jilid I.

C.C.J. Maassen, 1937, "De Javaansche Landbouwkolonisatie in de Buitengewes.

C.J. Hasselman, 1914, Algemeen overzicht van de uitkomsten van het eivaartonderzoek, gehouden op Java en Madura in 1904-1905. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

CANNE, H. D., 1862, Bijdrage tot de geschiedenis der Lampongs. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-

M. Nijhoff. 18p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 11, Vierde Serie Deel 2.

Chijs, J. A. van der, 1877, Catalogus der Ethnologische Afdeeling van het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia.

CORNETS DE GROOT, H. F. W., 1882. Nota over de slavernij en het pandelingschap in de residentie Lampongsche Districten. Batavia-'s Hage, W.Bruining & Co.-M. Nijhoff 35p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 27.

D.C. Hooyer, 1912, Emigratie naar de residentie Benkoelen.
Dalom paksi (Buwai Menyata) -S.Yusputra, 1975, Kuntara Raja Niti Tanjungan Ketibung (terj. b. Indonesia).

DEPARTEMEN P dan K, 1979/1980, Sumbangan untuk mengenal sejarah daerah Lampung, terjemahan dari Tijdschrift voor Nederlandsch Indie 1874 Deel II, judul asli: Bijdrage tot de kennis der Geschiedenis van de Lampongs, (Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya - Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, terjemahan Firdaus Burhan).
Departemen P dan K, 1980, Adat istiadat daerah Lampung, Pusat Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah tahun 1977/1978.

DREWES, G. W. J. 1961. De Biografie van een Minangkabausen peperhandelaar in de Lampongs naar een Maleis handschrift in de Marsden-Collection te London uitgegeven, vertaald en ingeleid. 's-Gravenhage, Martinus Nijhoff, (4),159 p., index, 8vo wrs. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel XXXI.

DU BOIS, J. A., 1852, De Lampongsche distrikten op het eiland Sumatra. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon. 31,25p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 14de Jaargang.

EEKHOUT, R.A. , 1891, Aanleg van staatsspoorwegen in Nederlandsch Borneo en Zuid-Sumatra. Leiden, Brill. With 2 large folding maps. 31 pp. Sewn, orig. wrs.

Encyclopaedie Van Nederlands Indie, 1896, 'sGravenhage, Martinus Nijhoff, E.J. Brill, Leiden

Encyclopaedie van Ned.Indie, 2e deel, 1918. ‘sGravenhage, Martinus Nijhoff, E.J. Brill, Leiden

ESCHER, Dr. B.G. 1928. Krakatau in 1883 en in 1928. Amsterdam, K.N.A.G., 29 p., 11 figs., 2 folding maps (1 large), 2 tables, bibliography, 8vo wrs. Original extract from the periodical

K.N.A.G. (Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap)., Vol. XLV.

Galis, K. W. 1949, "Een en ander over de sociale structuur in Kaur", Tijdschrift voor Indische
Taal-, Land-, en Volkenkunde, LXXXIII: 27-58, 247-285.

Gittinger, Mattiebelle, 1972, "A Study of the Ship Cloths of South Sumatra: Their Design and Usage". Ph.D. dissertation, Columbia University, New York.

H.J. Heeren, 1979, Transmigrasi di Indonesia, Hubungan antara transmigrasi dan penduduk asli dengan titik berat Sumatra Selatan dan Tengah,

H.R. Rookmaker, 1937, De Javanen kolonisatie in de Lampongsche Districten,

HARREBOMÉE, G. J. 1885.Eene bijdrage over den feitelijken toestand der bevolking in de Lampongsche Districten. Rangen en waardigheden, uitspanningen en kleeding, godsdienst, huwelijk en de positie der vrouw. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 24p., 8vo modern wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 34. Reprint.

HAZEU, G. A. J. 1905. Een beschreven koperen plaat uit de Lampongs. Batavia-'s Hage, Albrecht & Co.,-M. Nijhoff, 12p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 48.

HELFRICH, O. L. 1891. Lampongsche raadsels, spreekwoorden en spreekwijzen. 'sGravenhage, Martinus Nijhoff, 8p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Vijfde volgreeks, Deel 6.

Hilman Hadikusuma SH, Persekutuan Hukum Adat Pubiyan Telu Suku dan fungsinya bagi
hukum adat lampung pada masa sekarang, Bunga Rampai Adat Budaya I, FH.Unila, 1973.

Hilman Hadikusuma, Hukum Adat Lampung Pepadun, Fajar Agung, 1988.

Hilman Hadikusuma, S.H Kuntara Raja Niti Pubiyan Telu Suku. 1986

Hilman Hadikusuma, S.H. Hukum Pidana Adat, Alumni Bandung. 1984

HISSINK, J. H. 1904. Het Pepadonwezen en zijne attributen in verband met de oude staatkundige indeeling in Marga's en het huwelijks- en erfrecht in de afdeeling Toelang Bawang der Lampongsche districten. Batavia-'s Hage, Albrecht & Co.,-M. Nijhoff, 99p, 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 47.

HOËVELL, W. R. van., 1862. Blik op de Lampongsche distrikten en hunne bevolking. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 11p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 24ste Jaargang.

HOËVELL, W. R. van. 1856-1857. De Lampong's. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 28,49,29p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 18de & 19de Jaargang.

HOËVELL, W. R. van. 1862. Over de landbouw-produkten der Lampongs. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 17p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 24ste Jaargang.

Hoop, A. N. J. Th. a Th. van der, 1949, Indonesian Ornamental Design. Bandoeng.
Indsich Verslag, Indisch Verslag 1941

J. van der Zwaal, 1936, De Javanen Kolonie's Gedong Tataan en Wonosobo in de Lampongsche Disricten,

J. van. Breda de Haan, 1915, Kolonisatie op de Buitenbezittingen,

J.W.J Wellan. 1932, Zuid Sumatra
Kampto Utomo, 1975, Masyarakat Transmigrasi Spontan di daerah Wai Sekampung (Lampung).
Karl J. Pelzer, 1948, Pioneer Settlement in the Asiatic Tropics, Studies in Land Utilization and Agricultural Colonization

KEMP. P.H. VAN DER, 1899. Raffles' bezetting van de Lampongs in 1818 . 's-Gravenhage, M. Nijhoff, 58 pp. - Extract BKI, Vol. 50, 1899 (pp. 1-58). Sewn, modern blind wrs. Fine, unopened copy. (C).

KIT 202, Memorie van Overgave Residentie Benkolen

KIT 203, Memorie van Overgave Residentie Benkoelen

KIT 930, Memorie Betreffende de Javanen Kolonisatie

KIT 936, Memorie van Overgave onderafdeeling Recijang 1928

Koentjaraningrat, 1975, Kebudayaan Jawa,

Kroef, J. M. van der, 1954, "Dualism and Symbolic Antithesis in Indonesian Society", American Anthropologist, 56 :847-862.

KÜHR, C. A. H. 1879. Eene proclamatie van Sir Thomas Stamford Raffles aan de Margahoofden der Lampongsche Distrikten. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 7p, 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 26.

KÖHLER, J. C. 1854. Verslag eener reis in de Lampongsche Distrikten. Batavia, Lange & Co., 21p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 3.

KÖHLER, J. C. 1856. Verslag eener reis door een gedeelte der Lampongsche Distrikten. Batavia,

Lange & Co., 18p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 5.

Langewis, L., and Frits Wagner, 1964, Decorative Art in Indonesian Textiles. Amsterdam.

LEUPE, P. A. 1875. Bijdrage tot de geschiedenis van den zeeroof in den Oost-Indischen Archipel 1800-1802. Batavia-'s Hage, Bruining & Wijt-M.Nijhoff, 66p., with 2 folding maps (De nieuw Nigori van de Zeeroversmet hun fortres, Rivier van Lampong en Bagedange & vernielde Campong gelegen in den Rivier Lampong Poeti), 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 22.

Loeber, J. A. 1903, "Het weven in Nederlandsch-Indie", Bulletin, Koloniaal Instituut (Haarlem) No. 29.

OPHUIJSEN, C. A. van. 1896. Lampongsche dwerghertverhalen. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 34p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 46).

Op't Land, C. 1968-69 "Een merkwaardige 'Tampan Pengantar' van Zuid-Sumatra", Kultuurpatronen, 10-11: 100-117.

Patrice.Levang, 2003, Ayo Ke Tanah Sabrang, Transmigrasi di Indonesia (terjemahan),

Purwanta Iskandar, 1976, "Desa Transmigrasi Sidomulyo 1937,

Roos, K. H. F. 1890, "Aanteekeningen over de afdeeling Kaoer in de residentie Benkoelen",
Tijdschrift van het Binnenlandsch Bestuur. IV: 14-33, 92-112, 145-160.

ROVERE van BREUGEL, Jonkhr. J. de. 1856. Beschrijving van Bantam en de Lampongs. Amsterdam, Batavia, Frederik Muller, van Haren, Noman en Kolff, 54p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 5. - Reprint.

Scharer, Hans, 1963, Ngaju Religion, The Conception of God Among a South Borneo People. The Hague. Translation of Die Gottesidee der Ngadju Dajak in Su'd-Borneo. 1946. Leiden.

STECK, F. G. 1862. Topographische en geographische beschrijving der Lampongsche distrikten. Amsterdam, Batavia, Frederik Muller,G. Kolff, 45,4p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Nieuwe volgreeks, Deel 4.

Steinmann, Alfred, 1937, "Les 'tissus a. jonques' de sud de Sumatra", Revue des Arts Asiatiques, XI: 131-143.

Steinmann, Alfred, 1938-39, "Uber die sogenannte Schiffstiicher von Sudsumatra", Bulletin der

Schweizenschen Gesellschaft fur Anthropologie und Ethnologie, 15: 5-6.

Steinmann, Alfred, 1946, "The Ship of the Dead in the Textile Art of Indonesia", Ciba Review, 52: 1885-1896.

Steinmann, Alfred, 1965, "Das Seelenschiff in der Textilkunst Indonesiens", Kultuurpatronen, 7:23-39.

Suhartono, 1955, Bandir-bandit Pedesaan di Jawa, Studi Historis 1850-1942,

Tillman, G. 1938a, "lets over de weefsels van de Kroe" Districten in Zuid-Sumatra", Maandblad voor Beeldende Kunsten, XV: 10-16.

Tillman, G. 1938b, "lets over de weefsels van de Lampong'sche Districten in Zuid-Sumatra", Maandblad voor Beeldende Kunsten.: 131-143.

Tobing, Ph. O. L. 1956, The Structure of the Toba Batak Belief in the High God. Amsterdam.

Turner, Victor, 1967. The Forest of Symbols. Ithaca.

TUUK, H. N. van der. 1869. Brieven van H. N. van der Tuuk, betreffende het Lampongsch. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-M. Nijhoff, 49p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 19.

TUUK, H. N. van der. 1883. Lampongsche Pijagems. Batavia-'s Hage, Bruinung & Co.-M. Nijhoff, 17p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 29.
TUUK, H. N. van der. 1869. Proeve van een vergelijkende woordenlijst van Lampongsche tongvallen. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-M. Nijhoff, 7p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 17.

VETH, Prof. P. J. 1877. -1979, Het landschap Aboeng en de Aboengers op Sumatra. Met nalezingen en verbeteringen: Een en ander over de Lampongsche districten op Sumatra. Amsterdam-Utrecht, K.N.A.G./ C.L.Brinkman, J.J.Beijers, , 14 p., in 2 columns, large folding map, textmap, 4to wrs.

ZOLLINGER, B. 1847, De Lampongsche Districten en hun tegenwoordige toestand. Batavia,. 41,22,72p., 3 folding tables, 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 9de Jaargang.

Rabu, 04 Maret 2009

Selayang Pandang Kerajaan Tulang Bawang

Kerajaan Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan hindu tertua di kepulauan Nusantara, tidak banyak juga catatan mengenai kerajaan ini karena kerajaan ini eksis sekitar abad 5-7 Masehi, kejayaan tulang bawang sebagai sebuah kerajaan tercacat.

Dalam Desertasi O.W Wolters yang berjudul Perdagangan Awal Indonesia, Suatu Kajian Asal Usul Kerajaan Sriwijaya. Tradisi Sumatera yang tidak mengenal ornamen bangunan dibuat dengan memakai batu kali akan tetapi lebih pada kayu menyebabkan banyak peninggalan kerajaan ini tidak terdeteksi dengan apik, akan tetapi berdasar pada cerita-cerita masyarakat Tulang Bawang serta menurut Historian Belanda Naarding memperkirakan kerajaan ini terletak di way tulang bawang, antara kota menggala dan Pagar Dewa.

for detail please click address below:

http://history.melayuonline.com/?a=aVRzL21OTy9FUFk4UWdh=

Marga di Lampung

Source: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (Sumber Hilman Hadikusuma)

Lampung mengenal marga-marga yang mulanya bersifat geneologis-territorial. Tapi, tahun 1928, pemerintah Belanda menetapkan perubahan marga-marga geneologi-teritorial menjadi marga-marga teritorial-genealogis, dengan penentuan batas-batas daerah masing-masing.
Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala marga atas dasar pemilihan oleh dan dari punyimbang-punyimbang yang bersangkutan. Demikian pula, kepala-kepala kampung ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan oleh dan dari para punyimbang.

Please Click Link Below:

http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_di_Lampung

Minggu, 01 Maret 2009

Lampung

Source From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search
Lampung


Motto: "Sang Bumi Ruwa Jurai"

Map showing Lampung province in Indonesia
Capital Bandar Lampung
Governor Sjachroedin ZP
Area 35,376 km2 (13,659 sq mi)
Population 6,731,000 (2000)
Density 190.3 /km2 (493 /sq mi)
Ethnic groups Javanese (62%), Sundanese (9%), Peminggir (6%), Pepadun (4%), Malay (4%), Bantenese (3%) [1]
Religion Muslim (92%), Protestant (1.8%), Catholic (1.8%), Buddhist (1.7%)
Languages Indonesian
Time zone WIB (UTC+7)
Web site http://www.lampung.go.id

Lampung is a province of Indonesia, located on the southern tip of the island of Sumatra. It borders the provinces of Bengkulu and South Sumatra. Lampung is the original home of the "Lampung" tribe, who speak a distinct language from other people in Sumatra and have their own alphabet.

The province has a population of 6,654,354 (As of 2000 census). A large portion of the current population of Lampung is descended from migrants from Java, Madura, and Bali. These migrants came both spontaneously, in search of more land than was available on the more densely populated islands, as well as part of the government's transmigration program, for which Lampung was one of the earliest and most important transmigration destinations.

Lampung is commonly known for its geographical instability in terms of earthquakes and volcanoes. On May 10 2005, a strong earthquake measuring 6.4 on the richter scale struck the province. The historical volcano blast of Krakatau occurred in 1883, which resulted in disastrous consequences.

Contents

[hide]

[edit] Administration

Lampung is divided into 9 regencies:

and 2 cities: Bandar Lampung and Metro

Some of the major produce in the country includes robusta Coffee beans, Cocoa beans, coconuts and cloves. This has resulted in a thriving agricultural sector with companies like Nestlé procuring coffee beans from the region. This agriculture has included illegal growing in Bukit Barisan Selatan National Park.[2] In addition, Nata de Coco is also manufactured in the region by domestic companies like Wong Coco.

[edit] Textile

Up until the 1920s, Lampung had a rich and varied weaving tradition. Lampung weaving used a supplementary weft technique which enabled coloured silk or cotton threads to be superimposed on a plainer cotton background. The most prominent Lampung textile was the palepai, ownership of which was restricted to the Lampung aristocracy of the Kalianda Bay area.[3] There were two types of smaller cloths, known as tatibin and tampan, which could be owned and used by all levels of Lampungese society. Weaving technologies were spread throughout Lampung. High quality weavings were produced by the Paminggir, Krui, Abung and Pesisir peoples. Production was particularly prolific among the people of the Kalianda Bay area in the south and the Krui aristocracy in the north.

The oldest surviving examples of Lampung textiles date back to the eighteenth century,[citation needed] but some scholars believe that weaving may date back to the first millennium AD when Sumatra first came under Indian cultural influence.[who?] The prevalence of Buddhist motifs, such as diamonds, suggests that the weaving traditions were already active in the time when Lampung came under the Buddhist Srivijayan rule. There are similarities between Lampung weaving and weaving traditions in some parts of modern-day Thailand that experienced cultural contact with Sriwijaya.

Lampung textiles were known as 'ship cloths' because ships are a common motif. The ship motif represents the transition from one realm of life to the next, for instances from boyhood to manhood or from being single to married and also represents the final transition to the afterlife.[3] Traditionally, Lampung textiles were used as part of religious ceremonies such as weddings and circumcisions. For instance, the palepai cloths were used as long ceremonial wall-hangings behind the bridal party in aristocratic marriages. The smaller, more humble tampan cloths were exchanged between families at the time of weddings.

Production of many fine cloths blossomed in the late nineteenth century as Lampung grew rich on pepper production, but the devastating eruption of Krakatoa in 1883 destroyed many weaving villages in the Kalianda area.[citation needed] By the 1920s the increasing importance of Islam and the collapse of the pepper trade brought production to a halt.[citation needed] Today Lampung textiles are highly prized by collectors.

[edit] References

  1. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003.
  2. ^ Claire Leow. Nestlé to scrutinize Indonesia coffee amid wildlife-endangerment fears, International Herald Tribune.
  3. ^ a b "Ceremonial Hanging (palepai)". Pacific Islands art. Dallas Museum of Art. http://www.dallasmuseumofart.org/Dallas_Museum_of_Art/View/Collections/Pacific_Islands/ID_011092. Retrieved on 2007-09-26.

[edit] Further reading

  • Elmhirst, R. (2001). Resource Struggles and the Politics of Place in North Lampung, Indonesia. Singapore Journal of Tropical Geography. 22(3):284-307.
  • Pain, Marc (ed). (1989). Transmigration and spontaneous migrations in Indonesia : Propinsi Lampung. Bondy, France: ORSTOM.

Menimbang Beberapa Potensi Dasar Lampung

Harry Warganegara

Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, alumnus City University of New York
Source: lampost Kamis, 25 September 2008

Lampung dahulu terkenal sebagai kota dagang dan penghasil hasil bumi yang terkenal tidak hanya di kawasan Nusantara tetapi sampai peringkat global. Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan O.W. Wolters dalam disertasi doktornya di University of London yang berjudul Early Indonesian Commerce: A Study of Origins of Srivijaya tahun 1967. Dia menjelaskan dalam disertasi tersebut, dahulu sekali diperkirakan kurun waktu abad ke-4 sampai ke-6 terdapat sebuah kerajaan di tenggara Pulau Sumatera yang kelak dikenal sebagai Kerajaan Tulangbawang.

Kerajaan Tulangbawang merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar di Pulau Sumatera pada masa itu yang tercatat secara aktif mengadakan kontak dagang dengan Kekaisaran China. Pada bagian lanjutan, seakan tidak mau melupakan romantisme masa lalu, pihak kolonial Belanda misalkan pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20 menjadikan Port Menggala salah satu pusat perdagangan di rantau Sumatera.

Pada abad ke-19 dan ke-20, kopi dan lada lampung menjadi primadona dunia. Bayangkan saja, dengan minus infrastruktur dan kondisi sebagai tanah jajahan kolonial Belanda, nama Lampung dikenal dunia sebagai salah satu produsen kopi dan lada dunia.

Bagi saya, romatisme masa lalu menjadi hal yang penting untuk diingat bukan untuk berbesar hati, akan tetapi diambil hikmah sebagai cermin memompa semangat ke-Lampung-an bagi membawa kembali negeri di ujung Pulau Swarnadwipa sebagai salah satu pusat kecenderungan di Indonesia.

Dengan melihat potensi besar SDM (sumber daya manusia) maupun potensi SDA (sumber daya alam) yang dimiliki Lampung hari ini, sebenarnya provinsi ini layak menjadi sebuah provinsi makmur dan percontohan di Pulau Sumatera. Terdapat empat hal potensial Lampung dan merupakan aset yang belum dimanfaatkan maksimal.

Pertama, memaksimalkan potensi wisata budaya dan ecotourism. Sebagai daerah yang dinamis dan multietnik, Lampung sebenarnya mempunyai potensi besar untuk dapat "menjual" keberagaman etnik tersebut. Sebagai contoh para wisatawan tidak perlu ke Bali jika hanya menikmati budaya masyarakat Bali, cukup dua jam dari Bandar Lampung ke arah Raman Utara di sana terdapat profiling komunitas masyarakat Bali di provinsi ini.

Dalam konteks budaya Lampung sendiri, misalkan, pembagian secara adat antara Pepadun dan Saibatin juga kemudian melahirkan corak budaya tersendiri. Perbedaan inipun sebenarnya sebuah potensi wisata budaya yang luar biasa, yang dapat diangkat menjadi aset daerah.
Pada bagian lain, misalkan, potensi ecotourism juga merupakan bagian lain dari potensi wisata di provinsi ini yang dapat dimanfaatkan. Banyak sekali pulau persinggahan, pantai, gunung, sungai, bukit, dan ngarai yang indah dan layak diangkat sebagai aset potensi wisata.

Kedua, memaksimalkan potensi pelabuhan Bakauheni. Tidak banyak provinsi di Indonesia yang mempunyai entry port dan salah satunya adalah Provinsi Lampung.
Selayaknya perlu tangan-tangan profesional untuk memaksimalkan potensi pelabuhan Bakauheni tersebut, bagaimana mengalihkan sedikit peran Pelabuhan Tanjungpriok yang sudah crowded menjadi milik Pelabuhan Bakauheni.

Ketiga, memaksimalkan potensi biomassa. Pencarian energi alternatif menjadi tema global hari ini. Kenaikan harga minyak bumi telah mengguncang perekonomian global, tidak hanya negara-negara miskin akan tetapi negara adidaya Amerika Serikat saja mengalami resesi.
Ke depan, negara-negara yang menguasai sumber energi akan menjadi pusat kecenderungan dunia. Lampung, menurut data angka yang tersedia, mempunyai potensi biomassa yang begitu besar dan masih belum dimanfaatkan secara maksimal.

Keempat, memaksimalkan potensi coorporate social responsibility (CSR) sebagai sebuah pola kemitraan antara perusahaan profit oriented dengan masyarakat. Banyak perusahaan besar di provinsi ini, perusahaan yang bergerak di bidang pembenihan udang, gula sampai tapioka.
Semua perusahaan tersebut adalah perusahaan besar di Indonesia yang secara etika bisnis terikat dengan CSR. Pada bagian ini sebenarnya pemerintah daerah dapat mengambil peran melakukan link and match terhadap potensi dana-dana CSR tersebut, terutama sekali bagaimana menjembatani pemanfaatan dana-dana CSR sampai ke masyarakat.

Untuk menunjang potensi-potensi tersebut, penting juga bagi pemerintah daerah melakukan terobosan-terobosan mendesain kawasan-kawasan percepatan pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, apa yang dilakukan Provinsi Riau dengan membuka kawasan segitiga ekonomi yang dikenal dengan istilah Sijori (Singapura, Johor, dan Riau).

Dengan merancang kawasan berikat seperti Sijori, eskalasi pertumbuhan ekonomi Riau dapat dipacu. Lampung dapat mencontoh apa yang dilakukan Provinsi Riau, dengan mewujudkan kawasan berikat Singapura, Johor, dan Lampung. Ke depan, peluang investasi di Lampung semakin berwarna.

Akhirnya membentuk secara simultan model pemerintahan yang kreatif dan inovatif menjadi sangat penting. Ke depan, pemerintahan lokal yang baik adalah pemerintahan yang efektif dan efisien memanfaatkan sumber daya (resources), "cerdas" mendapatkan investasi serta mampu secara bertahap meminalisasi ketergantungan secara simultan terhadap subsidi pemerintah pusat.

Menggala Tergerus Dangdut

Menggala Tergerus Dangdut

Source: Lampungpost (Minggu, 14 Desember 2008)


MENGGALA--Kota tua Menggala sesungguhnya merupakan kota yang memiliki sejarah kejayaan di masa silam, tapi kini hanya tinggal kenangan. Bagaimana Menggala berada, inilah sekelumit cerita sejarah yang di paparkan mantan Pejabat Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Menggala periode 1993--1994, Rukhyat Kusuma Yuda (71).

Meskipun usianya sudah terhitung uzur, semangatnya masih terlihat menggelora jika menceritakan tanah kelahirannya Menggala. Menurut dia yang ditemui Jumat (12-12) di rumah dinas Camat Menggala, keberadaan Kota Menggala bisa dilihat sejak abad ke-19. Saat itu Lampung menjadi daerah protektorat, yaitu bawahan Kerajaan Banten. Akan tetapi, sejak 1948 saat Kerajaan Banten dikuasai Belanda, pemerintahan Menggala pun diatur dengan cara-cara Belanda. Jadi otoritas Lampung menjadi jajahan Belanda.

Kemudian setelah Belanda hengkang dari Menggala, pemerintahan menjadi sistem marga (adat) yang sampai sekarang masih kita kenal dengan empat marga (Megou Pak), walaupun sekarang kegiatan marga (adat) tidak jalan.

Rukhyat menjelaskan tahun 1952 dari pemerintahan marga berubah menjadi pemerintahan negeri yang dipimpin kepala negeri. Pemerintahan negeri dihapus tahun 1972--1973 sehingga aktivitas pemerintahan diambil alih onderdistrik atau setingkat kecamatan. Kecamatan merupakan bagian dari kewedanaan yang orang Belanda sebut sebagai distrik. Sebenarnya saat Jepang berkuasa 1946, di Menggala juga sudah kenal istilah camat yang dijabat vukuhkunco, saat itu Jepang hanya sebagai pengendali kewedanaan.

Menggala, kata Rukhyat yang juga pernah menjadi asisten wedana, kemudian berubah menjadi camat kepala wilayah sesuai dengan UU No.18 Tahun 1965. Terakhir, camat tanpa embel-embel kepala wilayah, tentu sesuai dengan UU 32/1999. Sebab, yang namanya camat atau bupati pasti kepala wilayah di tingkatannya.

Kota tua Menggala awalnya memiliki rumah panggung dengan ketinggian tertentu guna menghindari gangguan binatang dan banjir. Sejak sekitar 1920-an mulai ada bangunan rumah menggunakan semen, tapi sebelum itu masih panggung. Dan sampai sekarang masih ada beberapa rumah adat dengan usia sekitar ratusan tahunan: Rumah adat milik keturunan Pagar Alam, rumah milik keturunan Warga Negara dan rumah H. Husen. Semuanya belum ada perubahan sama sekali dan masih asli. Crri khas rumah adat ialah memiliki semacam tempat untuk bermusyawarah.

Ada dua peninggalan Belanda yang masih bisa dimanfaatkan: Kantor Pos Menggala dan Gedung Perwatin. Gedung itu sempat dijadikan Kantor Bappeda. Gedung itu sudah berusia ratusan tahun karena tahun 1905, ayah Rukhyat Kesuma Yuda, Raden Panji Kesuma Yuda, telah berkantor di Gedung Perwatin. Ayahnya, kata Rukhyat, sempat menjadi demang selama dua periode, yakni tahun 1921 hingga 1927 dan periode kedua 1932 hingga 1942.
Menggala dahulu pernah menjadi pusat pemerintahan, perdagangan ,dan pendidikan. Sebab, saat itu di Lampung hanya ada dua sekolah Belanda yang disebut HIS. Yang pertama di Telukbetung dan kedua di Menggala.

Maka, saat itu banyak putra Menggala sudah terdidik, bahkan Jenderal Ryacudu pernah sekolah di Menggala. Menggala juga pernah menjadi pusat perdagangan karena dahulu hanya ada dua pelabuhan: Telukbetung dan Pelabuhan Menggala.

Kemudian Menggala pernah menjadi pusat pemerintahan karena dahulu memang sempat dijadikan tempat asisten residen. Setelah Perang Dunia II, asisten residen diganti hanya menjadi kontroliur (HvB). Lalu menjadi pusat kebudayaan karena dahulu Menggal menjadi pusat sanggar tari terkenal, tempat pembuatan tapis dan siger, pembuatan kopiah resem, anyaman tikar, dan alat-alat memasak. Maka itulah, kata Rukhyat, Menggala sempat dijuluki Paris van Lampung oleh bangsa asing.

Ciri khas masyarakat Menggala ialah dari dahulu menjadi nomor satu adalah masalah politik. Politik di Menggala sangat kritis karena sedikit saja ada masalah, pasti mencuat ke permukaan dan tidak jarang saling menjatuhkan. Tiga daerah di Lampung yang paling kritis dalam urusan politik, yaitu Menggala, Krui, dan Sukadana.

Di bawah tahun 1970-an jarang orang mau jadi camat di Menggala karena jarang yang berhasil. Menggala bisa diibaratkan daerah buangan atau daerah ujian. Jika camat yang bertugas di Menggala gagal, hal itu biasa. Akan tetapi, kalau sukses menjadi sangat luar biasa. Jadi bertugas di Menggala memang harus berani.

Kini Menggala justru menjadi kota tua yang tertinggal dari berbagai segi dari daerah-daerah lain. Sebab, tidak ada lagi acara-acara menggunakan simbol-simbol adat, tidak ada lagi begawi. n WIDODO/M-1a